Beranda > Pendidikan, Umum > PENDIDIKAN KECAKAPAN HIDUP

PENDIDIKAN KECAKAPAN HIDUP


KATA PENGANTAR

Bahwa pendidikan memiliki peran sangat penting dalam pembangunan bangsa, kiranya tidak ada yang meragukan. Namun tentu harus difahami, pendidikan yang mampu mendukung pembangunan adalah pendidikan yang bermutu, yaitu pendidikan yang mampu
mengembangkan potensi peserta didik, sehingga yang bersangkutan mampu menghadapi dan memecahkan problema kehidupan yang dihadapinya. Konsep pendidikan seperti itu terasa semakin penting ketika seseorang harus memasuki dunia kerja dan kehidupan di masyarakat, karena yang bersangkutan harus mampu menerapkan apa yang dipelajari di sekolah untuk menghadapi probiema yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Melalui Pendidikan Kecakapan Hidup, kita ingin menyempurnakan pendidikan di Indonesia, sehingga mampu mengembangkan potensi peserta didik demi perannya sebagai pribadi yang mandiri, sebagai anggota masyarakat dan warga negara, sebagai bagian dari lingkungan dan tentu saja sebagai hamba Tuhan Yang Maha Esa. Buku I ini memuat konsep Pendidikan Kecakapan Hidup yang selanjutnya akan dijabarkan dalam bentuk operasional, yaitu bagaimana konsep itu dilaksanakan di sekoiah maupun di pendidikan luar sekolah. Jabaran tersebut akan dimuat pada Buku 11. Penulisan Buku ini dilaksanakan oleh Tim Asistensi BBE-Life Skill, yang terdiri dari Ace Suryadi, Arief Rahman, Bagiono Jokosumbogo, Hari Sudrajat, Muchlas Samani, Rusti Luthan dan Siskandar. Pengembangan konsep ini diawali dengan kajian terhadap berbagai referensi yang relevan dan kemudian dipadukan dengan hasil observasi intensif terhadap perilaku orang-orang yang suksea dalam menghadapi dan memecahkart problema kehidupannya. Setelah itu dibahas dan disempurnakan melalui serangkaian diskusi konsultasi dengan berbagai pihak. Pada tanggal 20 Agustus 2003 dilakukan temu konsultasi guna membahas buram dari konsep Pendidikan Kecakapan Hidup, dengan mengundang pakar dan berbagai pihak yang perduli terhadap pendidikan di Indonesia. Sangat menggembirakan, karena berbagai pihak tersebut menyambut baik gagasan Pendidikan Kecakapan Hidup dan sekaligus memberikan masukan guna penyempurnaan konsep yang telah ada. Sebagai sebuah inovasi, konsep ini tentu masih memerlukan penyempurnaan secara berkeianjutan. Oleh karena itu, semua pihak diundang untuk memberikan kritik dan saran guna penyempurnaan, yang dapat dialamatkan kepada: Tim Asistensi BBE-Life Skill Depdiknas Gedung E, Lt. 14 Jl. Jenderal Sudirman Senayan Jakarta 10270 Menteri Pendidikan Nasionai A. Malik Fadjar Konsep Pendidikan Kecakapan Hidup BAB I: PENDAHULUAN A. Latar Belakang Upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia telah lama dilakukan. Dalam setiap GBHN dan REPELITA selalu tercantum bahwa peningkatan mutu merupakan salah satu prioritas pembangunan di bidang pendidikan. Berbagai inovasi dan program pendidikan juga telah diiaksanakan, antara lain penyempurnaan kurikulum, pengadaan buku/bahan ajar dan buku referensi lainnya, peningkatan mutu guru dan tenaga kependidikan lainnya melalui berbagai pelatihan dan peningkatan kualifikasi pendidikan mereka, peningkatan manajemen pendidikan, serta pengadaan fasilitas lainnya. Namun demikian berbagai indikator menunjukkan bahwa mutu pendidikan masih belum meningkat secara signifikan. Dari dalam negeri diketahui bahwa NEM SD sampai Sekolah Menengah relatif rendah dan tidak mengalami peningkatan yang berarti. Dari sisi perilaku keseharian siswa, juga banyak terjadi ketidakpuasan masyarakat. Tawuran antar siswa kini sudah menjadi berita biasa. Jika dulu tawuran diikuti siswa-siswa SLTA di kota besar, kini sudah menjalar sampai ke SLTP di kota kabupaten. Dari dunia usaha juga muncul keluhan bahwa lulusan yang memasuki dunia kerja belum memiliki kesiapan kerja yang baik. Ketidakpuasan berjenjang juga terjadi, kalangan SLTP merasa bekal lulusan SD kurang baik untuk memasuki SLTP, kalangan SLTA merasa lulusan SLTP tidak siap mengikuti pembelajaran di Sekolah Menengah, dan kalangan perguruan tinggi merasa bekal lulusan SLTA belum cukup untuk mengikuti perkuliahan. Kini juga muncul gejala lulusan SLTP dan SLTA banyak yang menjadi pengangguran di pedesaan, karena sulitnya mendapatkan pekerjaan. Sementara itu, mereka merasa malu jika harus membantu orang tuanya sebagai petani atau pedagang. Terkait dengan itu, studi Blazely dkk. (1997) melaporkan bahwa pembelajaran di sekolah cenderung sangat teoretik dan tidak terkait dengan lingkungan di mana anak berada. Akibatnya peserta didik tidak mampu menerapkan apa yang dipelajari di sekolah guna memecahkan masalah kehidupan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan seakan mencabut peserta didik dari lingkungannya sehingga menjadi asing di masyarakatnya sendiri. Dari komparasi intemasional, mutu pendidikan di Indonesia juga kurang menggembirakan. Human Development Index (HDI) Indonesia menduduki peringkat ke 112 dari 175 negara yang disurvai, tiga tingkat di bawah Vietnam. Survai the Political Economic Risk Consultation (PERC) melaporkan Indonesia berada di peringkat ke 12 dari 12 negara yang disurvai, satu peringkat di bawah Vietnam. Hasil studi the Third International Mathematics and Science Study-Repeat (TIMSS-R 1999) melaporkan bahwa siswa SLTP Indonesia menempati peringkat 32 untuk ILMU ALAM dan 34 untuk Matematika, dari 38 negara yang disurvai di Asia, Australia, dan Afrika (Depdiknas, 2001). Hasil penilaian terhadap HDt maupun hasil survai TIMSS-R 1999 dan PERC dengan 17 indikatomya, serta fenomena yang ditemukan di tanah air periu direnungkan secara sungguh-sungguh. Fakta itu menunjukkan bahwa upaya peningkatan mutu yang selama ini dilakukan belum mampu memecahkan masalah dasar pendidikan di Indonesia. Pada hal pendidikan yang bermutu merupakan syarat pokok untuk peningkatan mutu SDM dalam memasuki era kesejagatan. Sejarah menunjukkan negara yang memperhatikan mutu pendidikan ternyatamengalami perkembangan yang mengagumkan, seakan membuktikan bahwa hasil pendidikan berupa sumberdaya manusia yang bermutu, menjadi modal dasar yang sangat kokoh bagi perkembangan suatu negara. Oleh karena itu diperlukan langkah-langkah penyempurnaan yang mendasar, konsisten dan sistematik. Untuk maksud tersebut, pendidikan perlu dikembalikan kepada prinsip dasamya, yaitu sebagai upaya untuk memanusiakan manusia (humanisasi), Pendidikan juga harus dapat mengembangkan potensi dasar peserta didik agar berani menghadapi problema yang dihadapi tanpa rasa tertekan, mampu dan senang meningkatkan fitrahnya sebagai khalifah di muka bumi. Pendidikan juga diharapkan mampu mendorong peserta didik untuk memelihara diri sendiri, sambil meningkatkan hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, masyarakat dan lingkungannya. Di samping itu periu dikembangkan kesadaran bersama bahwa: (1) komitmen peningkatan mutu pendidikan merupakan bagian dari upaya untuk meningkatkan mutu sumberdaya manusia, baik sebagai pribadi-pribadi maupun sebagai modal dasar pembangunan bangsa, merupakan langkah strategis pembangunan nasional, sebagaimana diamanatkan oleh pembukaan Undang-undang Dasar 1945, dan (2) pemerataan daya tampung pendidikan harus disertai pemerataan mutu pendidikan, sehingga mampu menjangkau seluruh masyarakat. Dari uraian di atas, jelaslah bahwa sangat diperlukan pola pendidikan yang dengan sengaja dirancang untuk membekaii peserta didik dengan kecakapan hidup, yang secara integratif memadukan kecakapan generik dan spesifik guna memecahkan dan mengatasi problema kehidupan. Pendidikan haruslah fungsional dan jelas manfaatnya bagi peserta didik, sehingga tidak sekedar merupakan penumpukan pengetahuan yang tidak bermakna. Pendidikan harus diarahkan untuk kehidupan anak didik dan tidak berhenti pada penguasaan materi pelajaran. B. Pengalaman Hidup Mariiah kita ingat-ingat teman kita yang dianggap “sukses” menjalani kehidupan dan kemudian kita cermati kemampuan apa yang mereka miliki sehingga sukses, atau setidaknya dapat bertahan hidup dalam situasi yang serba berubah. Jika ditanyakan mengapa dia sukses, umumnya kita akan menyatakan, mereka sukses karena: jujur, disiplin, kerja keras, ulet, pandai bergaul dan bermasyarakat, pandai melihat peluang dan memanfaatkan secara cerdas, serta memiliki banyak kiat sehingga mampu mengatasi masaiah yang dihadapi secara kreatif. Man kita simak bersama beberapa kisah sukses berikut ini. Alkisah, sekelompok anak usia 7-10 tahun di daerah pedaiaman sedang asyik bercengkerama di atas perahu di sebuah sungai. Tiba-tiba dayungnya patah. Setetah berpikir dan mengamati sekitarnya, salah seorang di antaranya berenang ke pinggir, memotong pelepah enau dan hanya dalam beberapa menit mampu menghasilkan sebuah dayung darurat. Kisah lain, baru-baru ini ada sekelompok anak muda yang mampu memanfaatkan sampah yang selalu menjadi masaiah di lingkungannya menjadi pupuk kompos dan bahan batako. Mereka mampu meyakinkan masyarakat untuk memisahkan sampah organik {sampah yang berasal dari bahan tumbuh-tumbuhan, ikan dan hewan) dan sampah anorganik {sampah yang berasal dari bahan tambang dan sintetis), sebelum dibuang ke tempat sampah. Di tempat penampungan, sampah organik diolah menjadi kompos sedangkan sampah anorganik sebagian dijual sebagai bahan daur ulang. Di suatu daerah di Kalimantan terkenai banyak rawa dengan air payau. Seorang guru risau dengan lingkungan sekolah yang penuh rawa dan miskin tanaman. Dengan memanfaatkan bekal ilmu yang dimiiiki dan konsultasi kesana-kemari, akhirnya ia menemukan cara sederhana untuk menetralkan air payah, sehingga dapat digunakan untuk menyiram tanaman. Berubahlah sekolah menjadi hijau segar. Di sekolah yang bangunannya berupa bangunan panggung di atas tanah rawa itu, dipenuhi dengan tanaman tomat, cabe, terong, bunga dan berbagai tanaman hias yang ditanam di pot-pot sederhana dan ditempatkan di teras depan kelas. Setiap kelompok siswa memiliki pot dan bertanggung jawab atas tanaman di dalamnya. Kisah-kisah dengan latar beiakang yang berbeda di atas menunjukkan bahwa “sang tokoh” mampu memanfaatkan pengetahuan yang dimilikinya untuk mengatasi problema yang dihadapi, dengan memanfaatkan benda dan situasi yang ada di sekitarnya. Bukankah itu identik dengan teman yang kita anggapi sebagai “orang sukses” tadi? Mereka sama-sama mampu memanfaatkan pengetahuan yang dimiiiki untuk menggunakan benda, peralatan dan situasi yang ada untuk memecahkan dan mengatasi problema yang dihadapi. Dengan merenungkan dan befajar dari pengalaman hidup masing-masing, kita akan menyadari bahwa dalam kehidupan setiap orang selalu menghadapi masaiah yang harus dipecahkan secara kreatif. Ibu rumah tangga yang tidak bekerja untuk mencari nafkah, juga menghadapi masaiah, misalnya memilih tempat belanja yang murah tetapi mutu barangnya bagus, atau ketika sedang memasak, tiba-tiba gas Elpiji habis. Seorang penjual pisang goreng juga harus mampu memecahkan problem, seperti dimana mendapatkan pisang bagus dengan harga murah, tempat yang strategis untuk menjual barang dagangannya, dengan sewa murah tetapi aman dari preman, dan sebagainya. Dalam derajat dan jenis yang berbeda, karyawan, pedagang, seniman, tentara, politisi dan pejabat pemerintah, siswa, mahasiswa, juga menghadapi berbagai masalah kehidupan sehari-hari yang harus mereka pecahkan. Bukankah dalam skala yang berbeda-beda perjalanan kehidupan semua manusia berlangsung seperti itu?. Dalam kehidupan keseharian, manusia akan selalu dihadapkan pada problema hidup yang harus dipecahkan dengan menggunakan berbagai sarana dan situasi yang dapat dimanfaatkan. Kemampuan seperti itulah yang merupakan salah satu inti kecakapan hidup.Artinya, kecakapan yang selalu diperlukan oleh seseorang dimanapun la berada ketika mengarungi kehidupan, baik bekerja atau tidak bekerja dan apapun profesinya. Untuk memecahkan problema kehidupan tersebut memang diperlukan berbagai pengetahuan dan informasi, tetapi semua itu harus diolah dan diintegrasikan menjadi suatu skema pemikiran yang komprehensif, sehingga dapat digunakan untuk memahami problema yang ada, mencari alternatif-alternatif pemecahan yang arif dan kreatif, memilih salah satu yang paling cocok, sesuai dengan kondisi masyarakat dan waktu, dan kemudian melaksanakan alternatif yang dipilih tersebut secara cerdas dan konsisten. C. Tantangan Masa Depan Sementara mutu pendidikan di Indonesia belum menggembirakan, tantangan di masa depan sangat berat. Didalam negeri krisis ekonomi menyebabkan angka pengangguran terns meningkat dan pada akhir tahun 2001 telah mencapai 40 juta. Mengingat krisis ekonomi tersebut tampaknya belum segera pulih, maka angka pengangguran juga belum segera dapat turun, sehingga pendidikan perlu berperan aktif membantu mengatasi pengangguran tersebut. Di bidang pendidikan sendiri, diketahui terdapat 88,4% lulusan SLTA tidak melanjutkan ke perguruan tinggi, dan 34,4% lulusan SLTP yang tidak melanjutkan ke SLTA (Balitbang Diknas, 2000). Mereka perlu mendapat perhatian agar tidak menambah jumlah angka pengangguran yang sudah sedemikian besar. Hal ini berarti bahwa perlu dipikirkan bagaimana pendidikan dapat berperan mengubah manusia-beban menjadi manusia-produktif, bekal apa yang perlu diberikan kepada peserta didik agar dapat segera memasuki dunia kerja, sehingga setidaknya mampu menghidupi dirinya, syukur jika dapat turut menghidupi keluarga. Di samping itu, tanpa harus mengganti kurikulum, perlu pula dipikirkan bagaimana proses pendidikan dapat lebih bermakna bagi peserta didik. Secara intemasional, sejak 1 Januari 2003 AFTA {Asean Free Trade Area) dan AFLA (Asean Free Labour Area) telah dimulai, yang berarti sejak saat itu persaingan tenaga kerja akan menjadi terbuka. Konsekuensinya tenaga kerja kita harus mampu bersaing secara terbuka dengan tenaga kerja asing dari berbagai negara. Jika tidak, maka tenaga kerja Indonesia akan tersisih oleh tenaga kerja asing dari negeri jiran Malaysia, Philipina, Bangladesh, India, dan sebagainya, sehingga menjadi “penonton” di negeri sendiri. Pada hal selama ini tenaga kerja Indonesia belum mampu bersaing dengan tenaga kerja asing. Sekali lagi bidang pendidikan perlu secara aktif berperan mempersiapkan calon tenaga kerja agar mampu bersaing dengan rekan mereka dari negara lain. Selain itu banyak ahli menyebutkan bahwa era informasi kini telah menggantikan era industri. Secara timbal balik dengan perkembangan ipteks, era informasi ternyata mampu mengubah poia kehidupan dan mempercepat pekerjaan. Orang kini harus siap menghadapi kenyataan bahwa pekerjaan yang ditekuni mengalami perubahan dan memerlukan peningkatan kecakapan untuk menanganinya. Bersamaan dengan itu, era kompetisi yang cenderung individualistik kini sudah bergeser ke era komunalitas, yang memeiiukan kesadaran untuk saiing mengerti dan saling membantu, Oleh karena itu, pendidikan kini juga harus memperhatikan perkembangan tersebut. D. Rumusan Masalah dan Pemecahannya Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan di Indonesia kini menghadapi masalah yang serius, dengan indikator: 1. cukup banyak lulusan SLTP dan SLTA yang tidak melanjutkan pendidikan, yang jika tidak bekerja akan menambah jumlah pengangguran, 2. banyak lulusan SLTP dan SLTA yang tidak mampu menerapkan pengetahuan yang didapat dari sekolah kedalam kehidupan sehari-hari, sehingga seakan-akan mereka terasing di lingkungannya sendiri dan seringkali menjadi sumber keributan, dan 3. secara komparatif mutu pendidikan kita tergolong sangat rendah di unia, sementara itu dengan beriakunya AFTA sejak 1 Januari 2003, tenaga kerja asing akan segera masuk ke Indonesia, sehingga jika tidak siap kita akan menjadi pecundang di negara sendiri. Ketika indikator pendidikan tersebut di atas diajukan, beberapa orang menyatakan bahwa hal itu disebabkan oleh rendahnya mutu guru, kurangnya sarana dan kecilnya biaya operasional pendidikan. Tentu kita setuju dengan pendapat tersebut, namun tampaknya masih ada penyebab lain yang sangat mendasar, yaitu orientasi pendidikan. Seperti yang diuraikan terdahulu, pendidikan kita selama ini berjalan dengan verbalistik dan berorientasi semata-mata kepada penguasaan mata pelajaran. Pengamatan terhadap praktek pendidikan sehari-hari menunjukkan bahwa pendidikan difokuskan agar siswa menguasai informasi yang terkandung dalam materi pelajaran dan kemudian dievaluasi dari seberapa jauh penguasaan itu dicapai oleh siswa. Seakan-akan pendidikan beryujuan untuk menguasai mata pelajaran Bagaimana keterkaitan materi ajar dengan kehidupan sehari-hari dan bagaimana materi ersebut dapat digunakan untuk memecahkan probiema kehidupan, kurang mendapat perhatian. Pendidikan seakan teriepas dari kehidupan keseharian, seakan-akan pendidikan untuk pendidikan atau pendidikan tidak terkait dengan kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu siswa tidak mengetahui manfaat apa yang dipelajari dan sampai lulus seringkali tidak tahu bagaimana menggunakan apa yang telah dipelajari dalam kehidupan sehari-hari yang dihadapi. Jika ditanyakan kepada siswa, mengapa dia belajar Matematika, Biologi, dan sebagainya, mereka tidak tahu. Jika dipaksa untuk menjawab, jawaban yang sering muncul adalah karena itu merupakan mata pelajaran di sekolah. Oleh karena itu pendidikan menjadi tidak bermakna bagi siswa, karena siswa tidak mengetahui manfaat dari apa yang dipelajari dan tidak tahu bagaimana menggunakan materi ajar untuk memecahkan probiema sehari-hari. Akibatnya siswa tidak termotivasi, karena tidak mengetahui manfaat dari apa yang dipelajari, dan setelah lulus mereka juga tidak tahu bagaimana menerapkan apa yang dipelajari. Dengan demikian tidak mengherankan jika motivasi belajar siswa pada umumnya rendah dan setelah mereka lulus, juga tidak tahu apa yang harus dikerjakan, kecuaii untuk melanjutkan sekolah dan menggunakan ijasah untuk melamar pekerjaan. Bertolak dari masalah tersebut, kiranya periu dilakukan langkah-langkah agar pendidikan dapat membekaii peserta didik dengan kecakapan hidup, yaitu kemampuan dan keberanian 1 menghadapi problema kehidupan, kemudian secara kreatif menemukan solusi serta mampu mengatasinya. Pendidikan yang dapat mensinergikan berbagai mata pelajaran/mata diklat/mata kuliah menjadi kecakapan hidup yang diperiukan seseorang, di manapun ia berada, bekerja atau tidak bekerja, apapun profesinya. Dengan bekal kecakapan hidup yang baik, diharapkan para lulusan akan mampu memecahkan problema kehidupan yang dihadapi, termasuk mencari atau menciptakan pekerjaan bagi mereka yang tidak melanjutkan pendidikannya. Untuk mewujudkan hal ini, perlu diterapkan prinsip pendidikan berbasis luas yang tidak hanya berorientasi pada bidang akademik atau vokasional semata, tetapi juga memberikan bekal learning how to learn seka’igus learning how to unlearn, tidak hanya belajar teori, tetapi juga mempraktekkannya untuk memecahkan problema kehidupan sehari-hari (Bentty, 2000). Pendidikan yang mengitegrasikan empat pilar pendidikan yang diajukan oleh UNESCO, yaitu learning to know, learning to do, learning to be, and tearing to live together. E. Landasan Filosofis, Historis dan Yuridis Proses belajar terjadi setiap saat dan di segala tempat. Setiap orang, baik anak-anak maupun orang dewasa mengalami proses belajar, lewat apa yang dijumpai atau apa yang dikerjakan. Secara alamiah setiap orang akan terus belajar melalui pengalaman berinteraksi dengan lingkungan. Pendidikan sebagai suatu sistem, pada dasarnya merupakan sistematisasi dari proses perolehan pengalaman belajar tersebut di atas. Oleh karena itu secara filosofis pendidikan diartikan sebagai proses perolehan pengalaman belajar yang berguna bagi peserta didik. Pengalaman belajar tersebut diharapkan mampu mengembangkan potensi yang dimiliki peserta didik, sehingga siap digunakan untuk memecahkan problema kehidupan yang dihadapinya. Pengalaman belajar yang diperoleh peserta didik diharapkan juga mengilhami mereka ketika menghadapi problema dalam kehidupan sesungguhnya (Senge, 2000). Mungkin akan mucul pertanyaan, apa sebenarnya manfaat pendidikan, khususnyajika dikaitkan dengan kehidupan peserta didik. Pendidikan sebagai suatu sistem, pada dasamya merupakan sistematisasi dari proses perolehan pengalaman tersebut di atas. Pengalaman belajar tersebut diharapkan mampu mengembangkan potensi yang dimiliki peserta didik, sehingga siap digunakan untuk memecahkan problema kehidupan yang dihadapinya. Secara historis, pendidikan sudah ada sejak manusia ada di muka bumi. Ketika kehidupan masih sederhana, orangtua mendidik anaknya, atau anak belajar kepada orang tua atau orang lain yang lebih dewasa di lingkungannya, seperti cara makan yang baik, cara membersihkan badan, bahkan tidak jarang anak belajar dari alam di sekitamya. Anak-anak belajar bercocok tanam, berburu dan berbagai kehidupan keseharian. Intinya anak belajar agar mampu menghadapi tugas-tugas kehidupan, mencari solusi untuk memecahkan dan mengatasi problema yang dihadapi sehari-hari. Ketika kehidupan makin maju dan kompleks, masalah kehidupan dan fenomena alam kemudian diupayakan dapat dijelaskan secara keilmuan. Pendidikan juga mulai bermetamorfosa menjadi formal dan bidang keilmuan diterjemahkan menjadi mata pelajaran/mata kuliah/mata diklat di sekolah. Walaupun demikian sebenarnya tujuan pendidikan tetap, yaitu agar peserta didik mampu memecahkan dan mengatasi permasalahan kehidupan yang dihadapi, dengan cara lebih baik dan lebih cepat, karena sudah dijelaskan secara keilmuan. Jadi tetap saja, bahkan “roh” pendidikan adalah mengembangkan kecakapan hidup peserta didik, sehingga pendidikan pada dasarnya merupakan Pendidikan Kecakapan Hidup (PKH). Mata peiajaran/mata kuliah/mata diklat berfungsi untuk menjefaskan fenomena alam kehidupan sehingga febih mudah difahami dan lebih mudah dipecahkan problemanya. Dengan kata lain, mata pelajaran/ mata kuliah/mata diklat adalah alat untuk membentuk kecakapan/ kemampuan yang dapat membantu mengembangkan dan memecahkan serta mengatasi permasalahan hidup dan kehidupan. Landasan yuridis pendidikan kecakapan hidup dapat mengacu pada UU Nomor 20. Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pada Pasal 1 ayat (1) dijelaskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiiiki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak muiia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Jadi pada akhimya tujuan pendidikan adalah membantu peserta didik agar nantinya mampu meningkatkan dan mengembangkan dirinya sebagai pribadi yang mandiri, sebagai anggota masyarakat dan sebagai warga negara. Dengan demikian mata pelajaran, mata kuliah dan mata diklat harus dipahami sebagai alat, dan bukan sebagai tujuan. Artinya sebagai alat untuk mengembangkan potensi peserta didik, agar pada saatnya dapat digunakan untuk peran kehidupan yang akan dijalaninya di masa datang. Terkait dengan peran dalam kehidupan, setiap manusia memiiiki empat peran yang berjalan secara simultan, yaitu sebagai hamba Tuhan Yang Maha Esa, sebagai diri pribadi, sebagai anggota komunitas keluarga/anggota masyarakat/warga negara dan sebagai bagian dan alam lingkungan. Dengan demikian semestinya kecakapan untuk mengemban empat peran itulah yang periu dikembangkan dalam pendidikan. Kecakapan yang diperiukan untuk empat peran itulah yang seharusnya dikembangkan dalam pendidikan. F. Tujuan Secara umum pendidikan kecakapan hidup bertujuan memfungsikan pendidikan sesuai dengan fitrahnya, yaitu mengembangkan potensi manusiawi peserta didik untuk menghadapi perannya di masa datang. Secara khusus pendidikan yang berorientasi pada kecakapan hidup bertujuan untuk: 1. mengaktualisasikan potensi peserta didik sehingga dapat digunakan untuk memecahkan problema yang dihadapi; 2. merancang pendidikan agar fungsional bagi kehidupan peserta didik dalam menghadapi kehidupannya di masa datang; 3. memberikan kesempatan kepada sekolah untuk pengembangkan pembelajaran yang fleksibel, sesuai dengan prinsip pendidikan berbasis luas, dan; 4. mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya di lingkungan sekolah, dengan memberi peluang pemanfaatan sumberdaya yang ada di masyarakat, sesuai dengan prinsip manajemen berbasis sekolah. Sementara itu, buku ini ditulis dengan tujuan menjelaskan konsep pendidikan kecakapan hidup (PKH///fe skill education) dan penerapannya pada tiap jenis dan jenjang pendidikan. G. Manfaat Secara umum manfaat pendidikan berorientasi pada kecakapan hidup bagi peserta didik adalah sebagai bekal dalam menghadapi dan memecahkan problema hidup dan kehidupan, baik sebagai pribadi yang mandiri, warga masyarakat, maupun sebagai warga negara. Jika hal itu dapat dicapai, maka faktor ketergantungan terhadap lapangan pekerjaan yang sudah ada dapat diturunkan, yang berarti produktivitas nasional akan meningkat secara bertahap. Buku singkat ini diharapkan dapat dimanfaatkan, baik oleh kalangan pendidikan maupun masyarakat luas sebagai panduan dalam memahami konsep kecakapan hidup dan menerapkannya sesuai prinsip pendidikan berbasis luas. Sebagai suatu konsep, pendidikan kecakapan hidup tentu terbuka dan memang akan terus berkembang, namun dengan adanya buku ini, paling tidak semua pihak terkait dapat menyamakan persepsi tentang apa itu kecakapan hidup, pendidikan kecakapan hidup, serta pendidikan berbasis luas dan pendidikan berbasis masyarakat. ________________________________________ BAB II: PENDIDIKAN KECAKAPAN HIDUP DAN PENDIDIKAN BERBASIS LUAS A. Konsep Dasar Kecakapan Hidup Setelah membaca uraian pada Bab I, muncul pertanyaan apakah yang dimaksud dengan kecakapan hidup. Dan contoh yang digambarkan pada Sub bab I B: Pengalaman Hidup, dapat disimpulkan bahwa kecakapan hidup (life skill) adalah kemampuan dan keberam’an untuk menghadapi problema kehidupan, kemudian secara proaktif dan kreatif, mencari dan menemukan solusi untuk mengatasinya. Pengertian kecakapan hidup lebih luas dari keterampilan vokasional atau keterampilan untuk bekerja. Orang yang tidak bekerja, misalnya ibu rumah tangga atau orang yang sudah pensiun, tetap memeriukan kecakapan hidup. Seperti halnya orang yang bekerja, mereka juga menghadapi berbagai masalah yang harus dipecahkan. Orang yang sedang menempuh pendidikanpun memeriukan kecakapan hidup, karena mereka tentu juga memiliki permasalahannya sendiri. Bukankah dalam hidup ini, di manapun dan kapanpun, orang selalu menemui masalah yang memeriukan pemecahan? Kecakapan hidup dapat dipilah menjadi dua jenis utama, yaitu: 1. Kecakapan hidup yang bersifat generik (generic life skili/GLS), yang mencakup kecakapan personal (personal skill/PS) dan kecakapan sosial (social skitl/SS). Kecakapan personal mencakup kecakapan akan kesadaran diri atau memahami diri (self awareness) dan kecakapan berpikir (thinking skill), sedangkan kecakapan sosial mencakup kecakapan berkomunikasi (communication skill) dan kecakapan bekerjasama (collaboration skill). 2. Kecakapan hidup spesifik (specific life skill/SLS), yaitu kecakapan untuk menghadapi pekerjaan atau keadaan tertentu, yang mencakup kecakapan akademik (academic skill) atau kecakapan intelektual dan kecakapan vokasional (vocational skill). Kecakapan akademik terkait dengan bidang pekerjaan yang lebih memeriukan pemikiran, sehingga mencakup kecakapan mengidentifikasi variabel dan hubungan antara satu dengan lainnya (identifying variables and describing relationship among them), kecakapan merumuskan hipotesis (constructing hypotheses), dan kecakapan merancang dan melaksanakan penelitian (designing and implementing a research). Kecakapan vokasional terkait dengan bidang pekerjaan yang lebih memeriukan keterampilan motorik. Kecakapan vokasional mencakup kecakapan vokasional dasar (basic vocational skill) dan kecakapan vokasional khusus (occupational skill). Secara skematik, rincian kecakapan hidup ditunjukkan pada Gambar2 Kecakapan kesadaran diri pada dasarnya merupakan penghayatan diri sebagai hamba Tuhan Yang Maha Esa, sebagai anggota masyarakat dan warga negara, sebagai bagian dari lingkungan, serta menyadari dan mensyukuri kelebihan dan kekurangan yang dimiliki, sekaligus menjadikannya sebagai modal untuk meningkatkan diri sebagai individu yang bermanfaat bagi diri sendiri maupun lingkungannya. Dengan kesadaran diri sebagai hamba Tuhan, seseorang akan terdorong untuk beribadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya, serta mengamalkan ajaran agama yang diyakininya. Pendidikan agama bukan dimaknai sebagai pengetahuan semata, tetapi sebagai tuntunan bertindak dan berperilaku, baik dalam hubungan antara dirinya dengan Tuhan Yang Maha Esa, maupun hubungan antara manusia dengan alam lingkungannya. Dengan kesadaran diri seperti itu, nilai-nilai agama dijadikan sebagai “roh” dari mata pelajaran lainnya. Kesadaran diri menjpakan proses internalisasi dari informasi yang diterima yang pada saatnya menjadi nilai-nilai yang diyakini kebenarannya dan diwujudkan menjadi perilaku keseharian. Oleh karena itu, walaupun kesadaran diri lebih merupakan sikap, namun diperiukan kecakapan untuk menginternalisasi informasi menjadi nilai-nilai dan kemudian mewujudkan menjadi perilaku keseharian. Oleh karena itu dalam naskah ini, kesadaran diri dikategorikan sebagai suatu kecakapan hidup. Kecakapan kesadaran diri tersebut dapat dijabarkan menjadi: (1) kesadaran diri sebagai hamba Tuhan, makhluk sosial, serta makhluk lingkungan, dan (2) kesadaran akan potensi yang dikaruniakan oleh Tuhan, baik fisik maupun psikologik. Kesadaran diri sebagai hamba Tuhan diharapkan mendorong yang bersangkutan untuk beribadah sesuai dengan tuntunan agama yang dianut, beriaku jujur, bekerja keras, disiplin dan amanah terhadap kepercayaan yang dipegangnya. Bukankah prinsip itu termasuk bagian dari akhlak yang diajarkan oleh semua agama? Oleh karena itu, diharapkan agar mata pelajaran Agama dan Kewarganegaraan menanamkan prinsip-prinsip seperti itu, dan bersama guru mata pelajaran lain mengimplementasikan dalam pelaksanaan kegiatan beiajar mengajardan kehidupan sehari-hari di sekolah. Jujur, disiplin, amanah dan kerja keras tidak hanya dapat dikembangkan melalui mata pelajaran Agama dan Kewarganegaraan. Melaiui mata pelajaran Matematika atau Fisika, juga dapat dikembangkan sikap jujur, misalnya tidak boleh memalsu data praktikum atau hasil perhitungan tertentu. Disiplin terhadap waktu maupun aturan yang telah disepakati dapat dikembangkan melalui setiap mata pelajaran, misalnya kapan dan bagaimana memulai kegiatan beiajar, praktikum maupun kegiatan ekstra kurikuier. Amanah dikembangkan ketika menggunakan peralatan praktikum maupun pertengkapan sekolah lainnya. Kerja keras dapat dikembangkan dalam mengerjakan tugas-tugas, baik individual maupun kelompok. Kesadaran diri bahwa manusia sebagai makhiuk sosial akan mendorong yang bersangkutan untuk beriaku toleran kepada sesama, suka menolong dan menghindari tindakan yang menyakiti orang lain. Bukankah memang Tuhan YME menciptakan manusia bersuku-suku, berbangsa-bangsa untuk saling menghormati dan saling membantu? Bukankah heterogenitas itu harmoni kehidupan yang seharusnya disinergikan? Nah, jika sikap itu bersumber dari kesadaran diri, maka pengawasan dari pihak lain menjadi tidak lagi penting, karena setiap orang akan mengontrol dirinya sendiri. Kesadaran diri sebagai makhiuk lingkungan merupakan kesadaran bahwa manusia diciptakan Tuhan YME sebagai kholifah di muka bumi dengan amanah memeriihara lingkungan. Dengan kesadaran itu, pemeliharaan lingkungan bukan sebagai beban, tetapi sebagai kewajiban ibadah kepada Tuhan VMF sohingga set;/:ip orang akar terdorong u ituk moiaksanakan. Kesadaran diri akan potensi yang dikaruniakan Tuhan kepada kita sebenarnya merupakan bentuk syukur kepada Tuhan. Dengan kesadaran itu, siswa akan terdorong untuk menggali, memelihara, mengembangkan dan memanfaatkan potensi yang dikaruniakan oleh Tuhan, baik berupa fisik maupun psikologik. Oleh karena itu, sejak dini siswa perlu diajak mengenal apa kelebihan dan kekurangan yang dimiliki (sebagai karunia Tuhan) dan kemudian mengoptimalkan kelebihan yang dimiliki dan memperbaiki kekurangannya. Jika siswa menyadari memiliki potensi olahraga, diharapkan akan terdorong untuk mengembangkan potensi tersebut menjadi olahragawan yang berprestasi. Demikian pula untuk potensi jenis lainnya. Wali kelas, guru Bimbingan Konseling, guru Bimbingan Karier, bahkan semua guru periu dan dapat berperan dalam mendorong siswa mengenal potensi yang dimiliki dan mengoptimalkan menjadi prestasi beiajar. Kesadaran tentang pemeliharaan potensi diri (jasmani dan rokhani) diharapkan mendorong untuk memelihara jasmani dan rokhaninya, karena keduanya merupakan karunia Tuhan yang harus disyukuri. Oleh karena itu, menjaga kebersihan, kesehatan, baik jasmani maupun rokhani, merupakan bentuk syukur kepada Tuhan, yang harus dilakukan. Berbagai mata pelajaran dapat menjadi wahana pengembangan kesadaran diri seperti itu, misalnya Biologi dan Olahraga dapat menjadi wahana yang sangat bagus untuk kesadaran memelihara jasmani, sedangkan Agama, Kewarganegaraan, Sastra dapat menjadi wahana pemeliharaan rokhani. Sebagai bentuk syukur kepada Tuhan, potensi yang dikaruniakan kepada kita harus dikembangkan, sehingga setiap orang harus mengembangkan potensi yang dikaruniakan-Nya. Pengembangan potensi dilakukan dengan mengasah atau melatih potensi itu. Dan itu berarti setiap orang harus terus menerus belajar. Dengan demikian prinsip life long education didorongkan kepada siswa, sebagai perwujudan syukur kepada Tuhan YME. Jadi belajar terus menerus sepanjang hayat merupakan bentuk syukur kepada Tuhan yang harus dilakukan oleh setiap orang. Jika kesadaran diri sebagai makhiuk Tuhan, sebagai makhluk sosial dan makhluk lingkungan, serta kesadaran akan potensi diri dapat dikembangkan akan mampu menumbuhkan kepercayaan diri pada anak didik, karena mengetahui potensi yang dimiliki, sekaligus toleransi kepada sesama teman yang mungkin saja memiliki potensi yang berbeda. Kecakapan kesadaran diri, sebagaimana dijelaskan di atas, kini semakin penting, karena salah satu problem bangsa ini adalah “rusaknya” moral. Para ahli menyebut, masyarakat kita sedang dijangkiti “penyakit me first’, yang selalu memikirkan keuntungan diri di urutan paling depan. Melalui penekanan kesadaran diri dalam pendidikan yang diaplikasikan melalui semua mata pelajaran, diharapkan secara bertahap moral bangsa dapat diperbaiki. Pendidikan untuk mengembangkan kesadaran diri seringkali disebut sebagai pendidikan karakter, karena kesadaran diri akan membentuk karakter seseorang. Karakter itulah yang pada saatnya terwujudkan menjadi perilaku yang bersangkutan. Oleh karena itu banyak ahli yang menganjurkan penumbuhan kesadaran diri ini yang periu dikembangkan sejak usia dini dan diupayakan menjadi kehidupan keseharian di rumah maupun di sekolah, Kecakapan berpikir pada dasarnya merupakan kecakapan menggunakan pikiran/rasio kita secara optimal. Kecakapan berpikir mencakup antara lain kecakapan menggali dan menemukan informasi (information searching), kecakapan mengolah informasi dan mengambil keputusan secara cerdas (information processing and decision making skills), serta kecakapan memecahkan masalah secara arif dan kreatif (creative problem solving skill). Kecakapan menggali dan menemukan informasi memeriukan kecakapan dasar, yaitu membaca, menghitung dan melakukan observasi. Oleh karena itu, anak belajar membaca bukan sekedar “membunyikan huruf dan kalimaf, tetapi mengerti maknanya, sehingga yang bersangkutan dapat mengerti informasi apa yang terkandung dalam bacaan tersebut. Siswa yang berlajar berhitung, hendaknya bukan sekedar belajar secara mekanistik menerapkan kalkulasi angka dan bangun, tetapi mengartikan apa informasi yang diperoleh dari kalkulasi itu. Oleri karena itu kontekstualisasi Matematika atau mata pelajaran lainnya menjadi sangat penting, agar siswa mengerti makna dari apa yang dipelajari dalam kehidupan sehari-hari, sebagai suatu informasi. Kecakapan meiakukan observasi sangat penting dalam upaya menggafi informasi. Observasi dapat dilakukan melalui pengamatan fenomena alam lingkungan, melalui berbagai kejadian sehari-hari, peristiwa yang teramati langsung maupun dari berbagai media cetak dan elektronik, tenmasuk internet. Seringkali kita melihat banyak hal, tetapi apa yang kita lihat tidak menjadi informasi yang bermakna, karena kita sekedar melihat dan tidak memaknai apa yang kita lihat. Melihat dengan cermat dan memaknai apa yang dilihat itulah yang disebut observasi. Kata-kata bijak: “siapa yang menguasai informasi akan memenangkan suatu kornpetisi” periu dikembangkan dalam pendidikan. Agar informasi yang terkumpul febih bermakna harus diolah. Hasil olahan itulah yang sebenarnya dibutuhkan oleh manusia. Oleh karena itu, kecakapan berpikir tahap berikutnya adalah kecakapan mengoiah informasi. Mengolah informasi artinya memproses informasi tersebut menjadi simpulan. Sebagai contoh, jika kita memiliki banyak informasi tentang harga buku yang sedang kita can, kita harus mengolahnya menjadi simpulan buku di toko mana yang paling murah, yang mutunya paling baik, yang mudah dicapai dari tempat tinggal, dan sebagainya. Untuk dapat mengolah suatu informasi diperlukan kemampuan membandingkan, membuat perhitungan tertentu, membuat analogi, sampai membuat analisis sesuai dengan informasi yang diolah maupun tingkatan simpulan yang diharapkan. Oleh karena itu kemampuan-kemampuan tersebut penting untuk dikembangkan melalui mata pelajaran yang sesuai. Melalui mata pelajaran Biologi, siswa dapat mengolah informasi tentang buah-buahan, sehingga siswa dapat menyimpulkan buah apa yang kandungan vitaminnya banyak, harganya relatif murah dan mudah didapat. Dengan prinsip serupa, mata pelajaran lainnya juga dapat mengembangkan kecakapan informasi. Jika informasi telah diolah menjadi suatu simpulan, maka tahap berikutnya orang harus mengambil keputusan berdasarkan simpulan-simpulan tersebut. Fakta menunjukkan seringkali orang takut mengambil keputusan karena takut menghadapi risiko yang muncul, pada hal informasi untuk dasar pengambilan keputusan telah tersedia. Dalam kehidupan sehari-hari, betapapun kecilnya, kita selalu dituntut untuk mengambil keputusan. Misalnya siswa harus mengambil keputusan untuk membeli buku atau memfotocopi buku teman. Ibu rumah tangga harus mengambil keputusan memasak apa untuk hari minggu. Ketika seseorang menjadi pimpinan, baik organisasi formal maupun tidak formal, maka salah satu tugas pokoknya adalah membuat keputusan. Oleh karena itu, siswa perlu belajar mengambil keputusan dan belajar mengelola risiko, melalui simpulan-simpulan analisis informasi. Sebagaimana disebutkan di bagian pendahuluan, setiap saat orang menghadapi masalah yang harus dipecahkan. Pemecahan masalah yang baik tentu berdasarkan informasi yang cukup dan telah diolah dan dipadukan dengan hal-hal lain yang terkait. Pemecahan masalah memerlukan kreativitas dan kearifan. Kreativitas untuk menemukan pemecahkan yang efektif dan efisien, sedangkan kearifan diperlukan karena pemecahkan harus selalu memperhatikan kepentingan berbagai pihak dan lingkungan sekitamya. Oleh karena itu sejak dini, siswa perlu belajar memecahkan masalah, sesuai dengan tingkat berpikirnya. Untuk memecahkan masalah memang dituntut kemampuan berpikir rasional, berpikir kreatif, berpikir alternatif, berpikir sistem, berpikir lateral dan sebagainya. Oleh karena itu, pola berpikir tersebut perlu dikembangkan di sekolah dan kemudian diaplikasikan dalam bentuk pemecahan masalah. Model pembelajaran pemecahan masalah (problem based instruction) dapat diterapkan untuk maksud tersebut. Kecakapan sosial atau kecakapan antar-personai {inter¬personal skills) mencakup antara lain kecakapan komunikasi dengan empati (communication skill) dan kecakapan bekerjasama (collaboration skill). Empati, sikap penuh pengertian dan sent komunikasi dua arah perlu ditekankan karena yang dimaksud berkomunikasi di sini bukan sekedar menyampaikan pesan, tetapi isi pesannya sampai dan disertat dengan kesan baik yang dapat menumbuhkan hubungan harmonis. Komunikasi dapat melaiui lisan atau tulisan. Untuk komunikasi lisan, kemampuan mendengarkan dan menyampaikan gagasan secara lisan perlu dikembangkan. Kecakapan mendengarkan dengan empati akan membuat orang mampu memahami isi pembicaraan orang lain, sementara lawan bicara merasa diperhatikan dan dihargai. Kecakapan menyampaikan gagasan dengan empati, akan membuat orang dapat menyampaikan gagasan dengan jelas dan dengan kata-kata santun, sehingga pesannya sampai dan lawan bicara merasa dihargai. Dalam tahapan lebih tinggi, kecakapan menyampaikan gagasan juga mencakup kemampuan meyakinkan orang lain. Fakta menunjukkan melakukan komunikasi lisan dengan empati temyata tidak mudah. Seringkali orang tidak dapat menerima pendapat lawan bicaranya, bukan karena isi atau gagasannya tetapi karena penyampaiannya tidak jelas atau karena cara menyampaikannya tidak berkenan. Orang tidak senang berkomunikasi dengan kita, karena kita tidak menunjukkan sebagai pendengar yang berempati. Oleh karena itu, berkomunikasi lisan perlu dikembangkan sejak dini. Kecakapan memilih kata dan kalimat yang mudah dimengerti oleh lawan bicara dan bersikap sopan serta menunjukkan perhatian kepada lawan bicara sangat penting dan oleh karena itu perlu ditumbuhkan dalam pendidikan. Komunikasi secara tertulis kini sudah menjadi kebutuhan hidup. Oleh karena itu, setiap orang perlu memiliki kecakapan membaca dan menuliskan gagasannya secara baik. Kecakapan menuangkan gagasan melaiui tulisan yang mudah difahami orang lain dan membuat pembaca merasa dihargai, perlu dikembangkan pada siswa. Menyampaikan gagasan, baik secara lisan maupun tertulis, juga memerlukan keberanian. Keberanian seperti itu banyak dipengaruhi oleh keyakinan diri dalam aspek kesadaran diri. Oleh karena itu, perpaduan antara keyakinan diri dan kemampuan berkomunikasi akan menjadi modal berharga bagi seseorang untuk berkomunikasi dengan orang lain. Menuliskan gagasan dan menyampaikan gagasan secara lisan, tidak semata-mata tugas mata pelajaran bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, tetapi juga mata pelajaran lain, misalnya melaiui tulisan atau presentasi hasil observasi, hasil praktikum, dan sebagainya. Mata pelajaran Fisika, Matematika, Geografi dan lainnya juga dapat menjadi sarana pengembangan kecakapan komunikasi, misalnya melaiui diskusi, presentasi hasi! praktikum, dan menuliskan laporan hasil praktikum atau kerja lapangan. Melaiui kegiatan seperti itu, kecakapan menjadi pendengar yang berempati, menjadi pembicara yang santun, dan menjadi penulis yang baik dapat dipupuk. Pada era iptek ini, komunikasi sudah banyak menggunakan teknologi, misalnya telepon, internet, tele-conference dan sebagainya. Oleh karena itu dalam kecakapan komunikasi juga tercakup kemampuan berkomunikasi dengan menggunakan teknologi. Kecakapan bekerjasama sangat diperiukan karena sebagai makhfuk sosial, dalam kehidupan sehari-hari manusia akan selalu bekerjasama dengan manusia lain. Kerjasama bukan sekedar “kerja bersama” tetapi kerjasama yang disertai dengan saling pengertian, saling menghargai dan sating membantu. Studi mutakhir menunjukkan kemampuan kerjasama seperti itu sangat diperiukan untuk membangun semangat komunalitas yang harmonis. Kecakapan kerjasama tidak hanya antar teman kerja yang “setingkaf tetapi juga dengan atasan dan bawahan. Dengan rekan kerja yang setingkat, kecakapan kerjasama akan menjadikan seseorang sebagai teman kerja yang terpercaya dan menyenangkan. Dengan atasan, kecakapan kerjasama akan menjadikan seseorang sebagai staf yang terpercaya, sedangkan dengan bawahan akan menjadikan seseorang sebagai pimpinan tim kerja yang berempati kepada bawahan. Seorang akan menjadi rekan kerja yang menyenangkan, jika mau “mengambil tanggung jawab” (take responsibility) dari tugasnya, menghargai pekerjaan orang lain dan ringan tangan membantu teman yang memerlukan. Seseorang akan menjadi staf yang terpercaya, jika mampu menunjukkan tanggung jawab, dedikasi, kemampuan, inisiatif dan kreativrtas kerja sesuai dengan tugas yang diberikan. Seseorang akan menjadi pimpinan tim kerja yang menyenangkan jika memiliki kecakapan membimbing bawahan dan memperhatikan kesulitan yang dialami dengan penuh empati, serta dapat menyelesaikan konflik secara bijak. Kecakapan kerjasama tidak hanya dapat dikembangkan lewat mata pelajaran Kewarganegaraan atau Agama, tetapi dapat melalui semua mata pelajaran. Melalui mata pelajaran Ekonomi, kerjasama dapat dikembangkan dalam mengerjakan tugas kelompok, karyawisata, maupun bentuk kegiatan lainnya. Dua kecakapan hidup generik yang diuraikan di atas (kecakapan personal dan kecakapan sosial) diperiukan oleh siapapun, baik mereka yang bekerja, mereka yang tidak bekerja dan mereka yang sedang menempuh pendidikan. Kecakapan hidup generik berfungsi sebagai landasan untuk belajar lebih lanjut (learning how to learn) dan bersifat transferable, sehingga memungkinkan digunakan untuk mempelajari kecakapan-kecakapan lainnya. Oleh karena itu beberapa ahli menyebutnya sebagai kecakapan dasar dalam belajar (basic learning skill). Kecakapan hidup yang bersifat spesifik (specific life skiil/SLS) diperiukan seseorang untuk menghadapi problema bidang khusus tertentu. Untuk mengatasi problema “mobil yang mogok” tentu diperiukan kecakapan khusus tentang mesin mobil. Untuk memecahkan masalah dagangan yang tidak laku, tentu diperiukan kecakapan pemasaran. Untuk mampu melakukan pengembangan biologi molekuler tentunya diperiukan keahlian di bidang bio-teknologi. Kecakapan hidup spesifik biasanya terkait dengan bidang pekerjaan (occupational), atau bidang kejuruan (vocational) yang ditekuni atau akan dimasuki. Kecakapan hidup seperti itu kadang-kadang juga dtsebut dengan kompetensi teknis {technical competencies) dan itu sangat bervariasi, tergantung kepada bidang kejuruan dan pekerjaan yang akan ditekuni. Namun demikian masih ada, kecakapan yang bersifat umum, yaitu bersikap dan beiiaku produktif (to be a productive people). Artinya, apapun bidang kejuruan atau pekerjaan yang dipeiajari, bersikap dan berperilaku produktif harus dikembangkan. Bidang pekerjaan biasanya dibedakan menjadi pekerjaan yang lebih menekankan pada keterampilan manual dan bidang pekerjaan yang menekankan pada kecakapan berpikir. Terkait dengan itu, pendidikan kecakapan hidup yang bersifat spesifik juga dapat dipilah menjadi kecakapan akademik (academic skill) dan kecakapan vokasional (vocational skill). Kecakapan akademik (academic skill/AS) yang seringkali juga disebut kecakapan intetektual atau kemampuan berpikir ifmiah pada dasarnya merupakan pengembangan dari kecakapan berpikir pada GLS. Jika kecakapan berpikir pada GLS masih bersifat umum, kecakapan akademik sudah lebih mengarah kepada kegiatan yang bersifat akademik/keilmuan. Hal itu didasarkan pada pemikiran bahwa bidang pekerjaan yang ditangani memang lebih memerlukan kecakapan berpikir ilmiah. Kecakapan akademik mencakup antara lain kecakapan metakukan identifikasi variabel dan menjelaskan hubungannya pada suatu fenomena tertentu (identifying variables and describing relationship among them), merumuskan hipotesis terhadap suatu rangkaian kejadian (constructing hypotheses), serta merancang dan melaksanakan penelitian untuk membuktikan suatu gagasan atau keingintahuan (designing and implementing a research). Kata penelitian dan aspek-aspek kecakapan akademik di atas, tidak hanya mencakup penelitian ekspenmental atau penelitian untuk membuktikan suatu hipotesis, tetapi juga penelitian bentuk lainnya, misalnya rancang bangun. Bukankah dalam rancang bangun, seseorang sebenamya juga melakukan hipotetik-hipotetik atau bahkan kreasi tertentu yang kemudian dituangkan dalam bentuk rancangan, yang diyakini paling sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Dan tentu saja, kreasi ataupun rancangan tersebut, telah mempertimbangkan berbagai faktor/variabel yang terkait Jadi secara esensi, proses rancang bangun juga melalui tahapan-tahapann yang mirip dengan penetitian. Sebagai kecakapan hidup yang spesifik, kecakapan akademik penting bagi orang-orang yang akan menekuni pekerjaan yang menekankan pada kecakapan berpikir. Oleh karena itu kecakapan akademik lebih cocok untuk jenjang SMA dan program akademik di universitas. Namun perlu diingat, para ahli meramalkan di masa depan akan semakin banyak orang yang bekerja dengan profesi yang terkait dengan mind worker dan bagi mereka itu belajar melalui penelitian (learning through research) menjadi kebutuhan sehari-hari. Tentu riset dalam arti luas, sesuai dengan bidangnya. Pengembangan kecakapan akademik yang disebutkan di atas, tentu disesuaikan dengan tingkat berpikir siswa dan jenjang pendidikan. Namun perlu disadari bahwa kecakapan itu dapat dikembangkan meialui berbagai mata pelajaran/mata kuliah di berbagai jenjang pendidikan. Melalui mata pelajaran Ekonomi, siswa dapat belajar mengidentifikasi variabel apa saja yang mempengaruhi harga gabah, kemudian mempelajari hubungan antar variabel tersebut, merumuskan hipotesis, merancang penelitian untuk membuktikan, bahkan sampai melaksanakannya, sesuai dengan tingkatan berpikimya. Melalui pelajaran Kewarganegaraan, siswa dapat belajar mengidentifikasi variabel yang menyebabkan terjadinya tawuran antar siswa, mempelajari hubungan antara variabel-variabel tersebut dan mencari solusi mengatasinya dengan merumuskan hipotesis-hipotesis, jika salah satu atau beberapa variabel diberi periakuan. Tentu saja harus disadari bahwa tidak semua aspek dalam kecakapan akademik dapat dan perlu dilaksanakan dalam suatu pembelajaran. Mungkin saja hanya sampai identifikasi variabel dan mempelajari hubungan antar variabel tersebut. Mungkin juga sampai merumuskan hipotesis dan bahkan ada yang dapat sampai mencoba melakukan penelitian, sesuai dengan tingkat pendidikannya. Pola seperti itu oleh para ahli disebut pola belajar dengan cara meniru bagaimana ahli (ilmuwan) bekerja. Pola ini sangat penting bagi siswa atau mahasiswa yang akan menekuni pekerjaan yang mengandalkan kecakapan berpikir, karena pola pikir seperti itulah yang nantinya digunakan dalam bekerja. Kecakapan vokasional (vocational skiflA/S) seringkali disebut pula dengan “kecakapan kejuruan”, artinya kecakapan yang dikaitkan dengan bidang pekerjaan tertentu yang terdapat di masyarakat. Kecakapan vokasional lebih cocok bagi siswa yang akan menekuni pekerjaan yang lebih mengandalkan keterampilan psikomotor dari pada kecakapan berpikir ilmiah. Oleh karena itu, kecakapan vokasional lebih cocok bagi siswa SMK, kursus keterampilan atau program diploma. Kecakapan vokasional mempunyai dua bagian, yaitu: kecakapan vokasional dasar (basic vocational skill) dan kecakapan vokasional khusus (occupational skill) yang sudah terkait dengan bidang pekerjaan tertentu. Kecakapan dasar vokasional mencakup antara melakukan gerak dasar, menggunakan alat sederhana diperiukan bagi semua orang yang menekuni pekerjaan manual (misalnya palu, obeng dan tang), dan kecakapan membaca gambar sederhana. Di samping itu, kecakapan vokasional dasar mencakup aspek sikap taat asas, presisi, akurasi dan tepat waktu yang mengarah pada perilaku produktif. Kecakapan vokasional khusus, hanya diperiukan bagi mereka yang akan menekuni pekerjaan yang sesuai. Misalnya menservis mobil bagi yang menekuni pekerjaan di bidang otomotif, meracik bumbu bagi yang menekuni pekerjaan di bidang tata boga, dan sebagainya. Namun demikian, sebenarnya terdapat satu prinsip dasar dalam kecakapan vokasional, yaitu menghasilkan barang atau menghasilkan jasa. Kecakapan akademik dan kecakapan vokasional sebenarnya hanyalah penekanan. Bidang pekerjaan yang menekankan keterampilan manual, dalam batas tertentu juga memerlukan kecakapan akademik. Demikian sebaliknya, bidang pekerjaan yang menekankan kecakapan akademik, dalam batas tertentu juga memerlukan kecakapan vokasional. Bahkan antara GLS, AS dan VS terjadi saling terkait dan tumpang tindih. Pada Gambar 3 terlihat tumpang tindih itu. Bagian tumpang tindih antara GLS dengan AS, seringkali disebut kecakapan akademik dasar (basic academic skill), bagian tumpang tindih antara GLS dan VS sering disebut dengan kecakapan vokasional dasar (basic vocational skill), dan tumpang tindih antara AS dan VS sering disebut dengan kecakapan Vokasional berbasis akademik (science based vocational skill). Juga perlu disadari bahwa di alam kehidupan nyata, antara generic life skill (GLS) dan specific life skill (SLS) yaitu antara kecakapan kesadaran diri) kecakapan berpikir, kecakapan sosial, dan kecakapan akademik serta kecakapan vokasional tidak berfungsi secara terpisah-pisah secara eksklusif. Tentu saja bobot setiap aspek kecakapan hidup dalam suatu tindakan agar bergantung pada jenis tindakan dan situasinya, tetapi semuanya (dengan bobot yang berbeda-beda) diharapkan akan melebur menjadi suatu perilaku yang bersangkutan. Peleburan kecakapan-kecakapan tersebut menyatu menjadi sebuah tindakan individu yang melibatkan aspek fisik, mental, emosional, intelektual, dan spiritual. Derajat kualitas tindakan individu dalam banyak hal dipengaruhi oleh kualitas kematangan berbagai aspek pendukung tersebut di atas. Berbagai studi menunjukkan kematangan seperti itu menjadi kunci kesuksesan seseorang. Dalam menghadapi kehidupan di masyarakat juga akan selalu diperlukan GLS dan SLS yang sesuai dengan masalahnya. Untuk mengatasi masalah mobil yang sedang mogok diperlukan VS (bagian dari SLS), khususnya tentang mesin mobil dan juga GLS, khususnya tentang berpikir rasional, menganalisis dan memecahkan masalah secara kreatif. Dengan kata lain, walaupun antara kecakapan-kecakapan hidup tersebut dapat dipilah, tetapi dalam penggunaannya akan selalu bersama-sama dan saling menunjang. Jadi, walaupun dapat dipilah menjadi berbagai aspek, kecakapan hidup merupakan satu keutuhan dan setiap aktivitas memerlukan semua kecakapan, walupun intensitasnya berbeda-beda. Seperti yang tampak pada Gambar 3, ada jenis pekerjaan tertentu, misalnya tukang kayu, mungkin memerlukan kecakapan vokasional yang besar, sebaliknya kecakapan akademik tidak ada dan hanya diperlukan kecakapan akademik dasar saja. Sebaliknya, seorang peneliti bidang IPA mungkin hanya memerlukan kecakapan vokasional dasar saja, sedang yang lebih dominan adalah kecakapan akademik. Tentu kedua jenis pekerjaan tersebut tetap memertukan kecakapan generik. Bangsa Indonesia yang merupakan bagian integral dari masyarakat dunia yang memiliki nilai religius, maka kecakapan hidup yang bersifat generik (GLS) di atas masih harus diberi penekanan, yaitu akhlaq. Artinya, kecakapan personal, kecakapan sosial, kecakapan akademik serta kecakapan vokasional harus dijiwai oleh akhlak mulia. Akhlak harus menjadi kendali dari setiap tindakan seseorang. Karena itu, kesadaran diri sebagai makhluk Tuhan harus mampu mengembangkan akhlak mulia tersebut. Akhlak mulia itu diharapkan dapat mengendalikan segala perilaku seseorang. Di sinilah pentingnya pembentukan jati-diri dan kepribadian (character building) guna menumbuhkembangkan penghayatan nilai-nilai etika-sosio-religius yang merupakan bagian integral dari pendidikan di semua jenis dan jenjang. Pendeskripsian kecakapan hidup sebagaimana dijelaskan di atas disebut pendeskripsian berdasarkan fungsi kecakapan dalam kehidupan manusia. Di samping itu masih ada pendeskripsian dari sudut pandang lain, misalnya yang memilah kecakapan hidup menjadi kecakapan dasar dan kecakapan instrumental. Juga ada yang membagi kecakapan hidup menjadi kecakapan komunikasi, manajemen diri, sosial, vokasional dan akademik terapan. Ada juga yang menyatakan kecakapan hidup mencakup kecakapan komunikasi, kecakapan mengambil keputusan, kecakapan inter-personal dan kecakapan belajar sepanjang hayat. Namun jika dicermati isi masing-masing aspek, akan tampak bahwa banyak persamaannya. Perbedaan pemilahan itu karena sudut pandang dan penekanan yang berbeda, sehingga dapat difahami sebagai suatu kewajaran. Di era global, kecakapan hidup yang diuraikan di atas semakin mendesak untuk dikembangkan. Berbagai studi menunjukkan di era global, setiap orang dituntut mampu berpikir dan belajar dengan cepat, fleksibel, bersikap produktif, mampu meningkatkan mutu secara terus menerus, serta mampu melakukan komunikasi yang efektif dengan orang dari berbagai latar belakang budaya (Apeid, 1993; Kerka, 1993; Clawon & Jordan, 2001. Bukankah kemampuan itu merupakan bentuk lain dari kecakapan hidup yang diuraikan di atas? B. Hubungan Antara Kehidupan nyata, Kecakapan hidup dan Mata pelajaran Mungkin akan muncul pertanyaan, lantas bagaimana hubungan antara kehidupan nyata dengan mata pelajaran? Di sekolah diajarkan berupa mata pelajaran/mata diklat, dan ujiannya juga berupa ujian mata pelajaran/mata diklat. Gambar 4. menunjukkan skema hubungan antara kenyataan hidup, kecakapan hidup dan mata pelajaran. Anak panah dengan garis patah-patah menunjukkan alur rekayasa kurikulum, yang meliputi beberapa tahap. Pada tahap awal, dilakukan identifikasi kecakapan hidup yang diperlukan untuk menghadapi kehidupan nyata di masyarakat, khususnya yang sesuai dengan jenis dan jenjang pendidikan yang dirancang kurikulumnya. Kecakapan hidup secara utuh yang diperlukan oleh lulusan itu paralel dengan kompetensi lulusan. Identifikasi itu dilakukan dengan mengamati dan mempredikasi pola kehidupan masyarakat, baik pada saat ini maupun prediksi di masa datang. Dari kecakapan hidup yang teridentifikasi, kemudian diidentifikasi pengetahuan, keterampilan dan sikap yang mendukung pembentukan kecakapan hidup tersebut. Pengetahuan, keterampilan dan sikap itulah yang selanjutnya diramu menjadi mata pelajaran/mata kuliah/mata diklat. Dalam proses pembelajaran, mata pelajaran itu harus dikaitkan dengan konteks kehidupan sehari-hari siswa, sehingga dapat membentuk kecakapan hidup yang sesuai dengan kehidupan nyata di masyarakat. Kecakapan hidup itulah yang nantinya digunakan oleh anak didik memasuki kehidupan nyata di masyarakat. Pada Gambar 4, alur tersebut ditunjukkan dengan anak panah dengan garis solid. Dari pemahaman tersebut, sekali lagi mata pelajaran atau mata diklat adalah “alat”, sedangkan yang ingin dicapai adalah pembentukan kecakapan hidup. Kecakapan hidup itulah yang diperiukan pada saat seseorang sebagai suatu kompetensi guna memasuki kehidupan sebagai individu yang mandiri, anggota masyarakat dan warga negara. Oleh karena itu tujuan utama belajar suatu mata pelajaran adalah untuk mencapai kompetensi yang mencakup pengetahuan, keterampilan dan sikap dan diwujudkan dalam perilaku tertentu. Perilaku itu yang diharapkan merupakan bagian dari perilaku secara utuh, yaitu kecakapan hidup. Sebagai contoh, mempelajari Matematika bukan sekedar untuk pandai Matematika, tetapi juga agar seseorang memiliki kompetensi dalam memanfaatkannya dalam kehidupan sehari-hari, membaca data, menganalisis data, mempelajari ilmu lain, dan seterusnya. Demikian pula mata pelajaran bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, bukan sekedar faham bahasanya, tetapi mampu menggunakannya untuk bernalar, mengungkapkan dan menyampaikan buah pikiran dalam bentuk komunikasi yang efektif. Begitu pula halnya dengan mata pelajaran/mata diklat Pendidikan Kewarganegaraan, bukan sekedar untuk memahami prinsip dan aturan kewarganegaraan, tetapi lebih dari itu, yaitu agar peserta didik mampu menerapkan pengetahuannya dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata bijak: “Kita sekolah untuk belajar kehidupan dan bukan sekedar untuk mata pelajaran”, kiranya periu diperhatikan. Inovasi pendidikan di negara maju kini juga mengarah kepada pengembangan kecakapan hidup. Model pembelajaran terpadu (integrated learning) dan pembelajaran kontekstual [contextual teaching and iearning/CTL) merupakan model pembelajaran yang mengarah pada pengembangan kecakapan hidup (Blanchard, 2001; University of Washington, 2001). Model pendidikan realistik [realistic education) yang kini sedang berkembang, juga merupakan upaya mengatur agar pendidikan sesuai dengan kebutuhan nyata peserta didik, agar hasilnya dapat diterapkan guna memecahkan dan mengatasi problema hidup yang dihadapi. Pada model-model pembelajaran tersebut, mata pelajaran/mata diklat diintegrasikan satu dengan yang lain, agar sesuai dengan kehidupan nyata di masyarakat. Pembelajaran dikaitkan dengan konteks kehidupan peserta didik, agar memungkinkan mereka belajar menerapkan isi mata pelajaran/mata diklat dalam pemecahan problema yang di hadapi dalam kehidupan keseharian. Walaupun dengan istilah berbeda, kecakapan hidup juga sedang dikembangkan di negara maju. Periu diperhatikan pula mengenai evaluasi hasil belajar. Pembelajaran yang berorientasi pada pembekalan kecakapan hidup dengan pembelajaran kontekstual memerlukan model evaluasi otentik (authentic evaluation), yaitu evaluasi dalam bentuk perilaku peserta didik dalam menerapkan apa yang dipelajarinya (Matematika, bahasa Indonesia, dan sebagainya) dalam kehidupan nyata. Paling tidak, dalam bentuk evaluasi simulasi (shadow authentic evaluation), yaitu dalam bentuk pemberian tugas proyek/kegiatan untuk merencanakan masalah yang memang terjad? di masyarakat (University of Washington, 2001). Pada tahap tertentu, evaluasi ciapat rnenggunakan poia yang lebih komprehensif, yaitu memecahkan masalah kehidupan sehari-hari, yang disesuaikan dengan tingkat berpikir dan jenjang pendidikan peserta didik. Itulah yang kini sering disebut sebagai problem based authentic evaluation. Misalnya siswa SMP/MTs diminta merancang pengaturan lalu lintas di depan sekolah, agar tidak macet saat siswa datang dan pulang. Siswa SMA/SMK/MA diminta merancang menu di kantin sekolah, yang gizinya baik, harganya murah dan sesuai dengan selera remaja. Siswa SD/MI diminta memelihara kebersihan kelas, sehingga kelas selalu bersih dan semua anak merasa bertanggungjawab atas kebersihan tersebut. C. Pendidikan Berbasis Luas (Broad-based Education) Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yang demikian pesat mengakibatkan inovasi pengetahuan begitu melimpah. Begitu banyaknya pengetahuan baru, sehingga beberapa ahli menyatakan orang tidak akan mampu mempelajari seluruhnya, walaupun dilakukan sepanjang hidupnya. Hal itu membawa konsekuensi dalam bidang pendidikan. Pendidikan tidak lagi dapat mengharapkan peserta didik untuk mempelajari seluruh pengetahuan. Karena itu harus dipilih bagian-bagian esensial dan menjadi fondasinya. Perkembangan iptek yang cepat membuat pengetahuan yang saat ini dianggap mutakhir (up to date), seringkali sudah menjadi usang setelah peserta didik lulus. Oleh karena itu dalam pendidikan, proses belajar (learning how to learn) menjadi penting, di samping hasil belajar. Mengapa? Dengan modal learning how to learn, mereka akan dapat mempelajari pengetahuan baru. Di lain pihak, masyarakat Indonesia sangat majemuk. Ada yang sangat metropolis dan mendorong anaknya menempuh pendidikan setinggi-tingginya bahkan mengirimkan ke luar negeri, tetapi juga banyak yang menyekolahkan anak sekedar dapat membaca-menulis, karena setelah itu sang anak akan segera bekerja membantu orangtuanya. Ada masyarakat yang tinggal di kota dan sudah menikmati “kehidupan era informasi”, memiliki berbagai fasilitas berteknologi tinggi, tetapi juga masih ada masyarakat yang tinggal di pedesaan yang relatif belum memiliki akses informasi. Ada masyarakat yang berorientasi industri dengan teknologi tinggi, sementara juga ada masyarakat agraris bahkan masih sangat sederhana. Nan, pendidikan harus dapat melayani semua lapisan masyarakat, dengan kondisi sangat majemuk tersebut. Pendidikan tidak dapat diorientasikan ke sebagian kecil masyarakat, misalnya yang sudah maju saja, dan melupakan lainnya yang mungkin jumlahnya juga cukup besar. Pendek kata masyarakat yang dilandaskan kepada kebutuhan masyarakat luas. Pemahaman itulah yang mendasari konsep Pendidikan Berbasis Luas (Broad Based Education) (PBUBBE), yaitu pendidikan yang mendasarkan pada kebutuhan masyarakat secara luas dengan berbagai karateristik, dan menekankan pada penguasaan kecakapan hidup ebagai pondasi pengembangan diri lebih lanjut. Dengan konsep pendidikan berbasis luas, seharusnya pendidikan selalu dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari peserta didik, karena kecuali yang akan menjadi ilmuwan, sebagian besar peserta didik lebih memeriukan aplikasi ilmu pengetahuan untuk memahami sekaligus memecahkan problema kehidupan keseharian. Dengan demikian konsep pendidikan berbasis luas berlaku di seluruh jenjang pendidikan, khususnya di jalur pendidikan persekolahan. Melaiui pendidikan berbasis luas, fleksibilitas pendidikan periu dikembangkan. Kondisi masyarakat yang heterogen, mobilitas orang yang semakin dinamis, serta perkembangan iptek yang semakin cepat, akan menyebabkan peserta didik memeriukan tambahan bekal dari luar jalur dan jenis pendidikan yang diikuti bahkan “bergeser” ke jalur dan jenis pendidikan lain. Juga sangat mungkin, karena berbagai hal, peserta didik terpaksa berhenti dan ternyata suatu saat ingin masuk kembali. Oleh karena itu dalam konsep PBL, pendidikan harus menerapkan fleksibilitas, permeabilitas dan multi entry-exit. Prinsip fleksibilitas-permeabilitas-multi entry-exit, memberi peluang peserta didik pindah dari satu jalur atau jenis pendidikan ke jalur atau jenis lainnya. Misalnya siswa SMA/MA dimungkinkan pindah ke SMK atau sebaliknya, dengan meperhitungkan kompetensi relevan yang telah dimiliki. Juga memberi peluang siswa suatu sekolah mengambil mata pelajaran/mata diklat/kursus ke lembaga lain, dan itu diekivalensi dengan mata pelajaran di sekolahnya. Juga terdapat peluang siswa yang oleh suatu sebab tertentu berhenti sekolah dan kemudian masuk kembali setelah keadaan memungkinkan. Tentu saja prinsip tersebut di atas diikuti dengan aturan yang rasional dan jelas, sehingga dapat menjadi pedoman pelaksanaannya. Prinsip tersebut juga menuntut adminsitrasi dan manajemen sekolah yang bagus. D. Hubungan antara PKH, BBE, KBK clan MBS Pada saat ini terdapat beberapa istilah yang periu diklarifikasi hubungannya antara satu dengan lainnya, khususnya antara PKH, PBL, Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). MBS periu diklarifikasi keterkaitannya, karena UU no. 25/2000, yang menyebutkan bahwa MBS merupakan pola pembinaan sekolah. Penjelasan yang relatif mudah difahami, bahwa PBL adalah paradigma pendidikan, PKH adalah roh atau substansi pendidikannya, kurikulum adalah terjemahan paradigma dan roh tersebut, sedangkan MBS adalah pola manajemen untuk mengimplementasikannya di sekolah (Suryadi, 2001). Dengan landasan paradigma berpikir bahwa pendidikan harus diorientasikan untuk melayani masyarakat luas, dengan kebutuhan yang sangat heterogen (prinsip PBL), maka pendidikan dikembalikan ke prinsip dasarnya, yaitu membantu peserta didik untuk menyiapkan diri agar mampu dan berani menghadapi problema kehidupan dan kemudian memecahkannya secara arif dan kreatif (prinsip PKH). Dengan landasan berpikir tersebut di atas, maka kurikulum sebagai skenario dasar pendidikan, harus dirancang agar mampu mewujudkan tujuan pendidikan tersebut. Kurikulum hendaknya tidak hanya diorientasikan sebatas penguasaan mata pelajaran, tetapi sampai membentuk kecakapan hidup yang diperiukan oleh peserta didik, menghadapi kehidupan nyata. Dengan kata lain, pencapaian kecakapan hidup secara sengaja hams dirancang di dalam kurikulum. Jika. digunakan KBK, kompetensi yang ingin dicapai oleh kurikulum merupakan kecakapan hidup yang diidamkan dalam PKH. Kompetensi lulusan dalam KBK, tentunya selaras dengan kecakapan hidup, sehingga lulusan mampu menghadapi dan memecahkan problema kehidupan. Dengan demikian kecakapan hidup akan selaras dengan kompetensi kehidupan (life competencies) . Sekolah adalah unit terdepan dalam implementasi pendidikan (jalur sekolah), yang tentunya menghadapi peserta didik dan masyarakat yang sangat heterogen. Oleh karena itu sekolah perlu memiliki aiang gerak menjabarkan kurikulum nasional, agar sesuai dengan kondisi seterhpat dan karateristik anak didik yang dimiliki (prinsip KBK). Salah satu model pembelajaran yang sesuai dengan karateristik anak dan konteks lingkungan itulah prinsip Pendidikan Kontekstual (contextual teaching and leaming/CTL). Pembelajaran akan efektif mengembangkan kecakapan hidup jika didukung oleh guru yang baik, sarana yang sesuai, lingkungan sekolah yang kondusif, dan sebagainya. Untuk itu sekolah harus dikelola dengan baik, yang sesuai dengan karateristik warga sekolah, karateristik masyarakat, potensi yang dimiliki sekolah, dan sebagainya. Oleh karena itu, diperiukan aplikasi manajemen yang sesuai dengan kondisi tersebut. Dan itulah prinsip MBS. BAB III: POLA PELAKSANAAN PENDIDIKAN KECAKAPAN HIDUP A. Pelaksanaan PKH Dikaitkan dengan Jenjang Pendidikan Bagaimana penerapan pendidikan berbasis luas sebagai upaya pembentukan kecakapan hidup dalam berbagai jenjang dan jenis pendidikan?. Tentunya diperiukan penyesuaian dengan tujuan pendidikan pada sekolah yang bersangkutan. Keterkaitan antar aspek kecakapan hidup pada setiap jenis dan jenjang pendidikan dapat dilihat pada Gambar 5. Pada jenjang pendidikan dasar yaitu; TK/RA dan yang sederajat, SD/ Ml/Paket A dan yang sederajat serta SMP/MTs/Paket B dan yang sederajat, lebih ditekankan bagi pengembangan kecakapan generik (GLS), di samping (a) upaya mengakrabkan peserta didik dengan peri kehidupan nyata di lingkungannya, (b) menumbuhkan kesadaran tentang makna/nilai perbuatan seseorang terhadap pemenuhan kebutuhan hidupnya, (c) memberikan sentuhan awal terhadap pengembangan keterampilan psikomotorik, dan (d) memberikan opsi-opsi tindakan yang dapat memacu kreativitas. Pengembangan SLS, baik yang bersifat AS maupun VS sebaiknya diberikan pada tahapan pengenalan dan diberikan sesuai dengan dengan perkembangan fisik maupun psikologis siswa. Pengembangan kecakapan akademik dasar (basic academic skill/pre-AS) dan kecakapan vokasionai dasar (basic vocational skill/pre-VS) dimaksudkan sebagai pemandu bakat dan minat siswa, sedangkan GLS sebagai bekal dasar untuk penyesuaian dalam hidup bermasyarakat. Pada jenjang pendidikan menengah umum, yaitu SMA/MA dan yang sederajat, di samping penekanan pada kecakapan akademik (AS) dan bersamaan dengan itu kecakapan hidup generik (GLS) diperkuat Dalam keadaan tertentu, dimana banyak siswa yang tidak meianjutkan setelah tamat, kecakapan vokasionai (VS) dapat diberikan, sesuai dengan minat siswa dan kondisi setempat. Pada pendidikan menengah kejuruan, yaitu SMK/Paket C/Kursus/Dikiat, serta kursus-kursus keterampilan, kecakapan vokasionai (VS) mendapatkan penekanan dan bersamaan itu kecakapan hidup generik (GLS) diperkuat. Dalam kondisi tertentu, di mana banyak lulusan SMK yang akan meianjutkan ke perguruan tinggi, kecakapan akademik (AS) dapat diberikan, sesuai dengan minat siswa dan kondisi sekolah. Dengan demikian, baik pada SMWMA maupun pada SMK, Paket C dan kursus keterampilan, bekal GLS tetap harus dikembangkan. Bagi siswa SMA/MA, bekal GLS akan sangat diperlukan untuk hidup bermasyarakat ataupun ketika ternyata tidak dapat meianjutkan ke perguruan tinggi, karena berbagai sebab. Bagi siswa SMK dan pendidikan profesional, bekal GLS sangat penting untuk belajar atau beradaptasi ketika terjadi perubahan teknologi dalam bidang pekerjaan yang dipelajari atau ditekuninya. B. Bagaimana Melaksanakan PKH di Sekolah? Sebagaimana disebutkan di depan, bahwa PKH bukan mata pelajaran baru dan dapat dilaksanakan tanpa mengubah kurikulum. Yang diperlukan adalah mengorientasikan pendidikan tidak hanya sampai mencapai penguasaan mata pelajaran, tetapi sampai membentuk kecakapan hidup. Berikut ini tiga strategi untuk melaksanakan PKH di sekolah, yaitu (1) reorientasi pembelajaran, (2) pengembangan budaya sekolah yang mampu menumbuhkan kecakapan hidup, dan (3) penerapan manajemen berbasis sekolah. 1. Reorientasi Pembelajaran Reorientasi pembelajaran artinya dengan kurikulum yang ada pembelajaran diorientasikan kepada pengembangan kecakapan hidup. Untuk memudahkan itu, sebelum guru menyusun Rencana Pembelajaran lebih dahulu periu memastikan, kecakapan hidup apa yang ingin dikembangkan bersama pokok bahasan/topik tersebut. Gambar 6 menunjukkan seorang guru Fisika di SMP ketika membahas pokok bahasan Tata Surya, juga ingin mengembangkan aspek kesadaran diri sebagai makhluk Tuhan, kecakapan menggali informasi dan mengolah informasi, serta kecakapan komunikasi lisan. Oleh karena itu pada kolom di bawah judul aspek-aspek tersebut diberi tanda cek (V). Contoh kedua, Seorang guru Matematika ketika membahas pokok bahasan Diferensial, juga ingin mengembangkan mengembangkan aspek kejujuran, toleransi antar teman, kecakapan mengambil keputusan, dan kecakapan komunikasi tertuiis. Aspek-aspek kecakapan hidup yang akan dikembangkan tersebut, selanjutnya dijadikan kompetensi dasar (KD) yang harus diupayakan tercapai bersamaan dengan KD substansi pokok bahasannya. Dengan demikian, ketika menyusun Silabi/Rencana Pembelajaran guru yang bersangkutan secara sengaja memasukannya sebagai KD, merancangnya menjadi kegiatan pembelajaran, dan mengukur hasilnya. Jadi aspek-aspek tersebut akan ikut berpengaruh terhadap model atau metoda pembelajaran yang akan digunakan. Catalan: Matriks di atas contoh cara mengintegrasikan aspek-aspek Kecakapan Hidup dengan mata pelajaran/pokok bahasan. Setelah aspek KH yang akan dikembangkan, selanjutnya dijadikan kompetensi dasar yang ingin dikembangkan dan diukur ketercapaiannya. Gambar 6. Matriks Integrasi Kecakapan Hidup dengan Pokok Bahasan Mata pelajaran Jika aspek komunikasi lisan ingin dikembangkan, maka seiama kegiatan pembeiajaran, siswa harus terlibat dalam komunikasi lisan, misalnya diskusi atau presentasi. Jika aspek kejujuran ingin dikembangkan, siswa harus didorong untuk berperilaku jujur, misalnya tidak memalsu data praktikum. Jika aspek kecakapan menggali informasi ingin dikembangkan, siswa harus menggali data atau informasi, misalnya dengan mencari data tentang ukuran planet, lintasan, suhu, proses perkembangan dan sebagainya. Sebagai KD, terbentuknya aspek-aspek tersebut harus diukur daiam evaluasi hasil belajar. Jika aspek kejujuran ingin dikembangkan dan telah dijadikan KD, maka harus diukur apakah siswa telah menunjukkan kejujuran seiama mengikuti pembeiajaran. Jika aspek komunikasi lisan dijadikan KD pokok bahasan Limit (Matematika), harus dievaluasi, apakah siswa menunjukkan kecakapan berkomunikasi lisan dengan empati, setama pembeiajaran. Pola serupa dapat digunakan untuk semua mata pelajaran untuk semua jenjang pendidikan. Gambar 6 sekedar contoh, dan setiap guru didorong untuk melakukan modifikasi dan penyempumaan, agar lebih sesuai dengan kondisi sekolah maupun siswanya. Reorientasi seperti itu juga dapat dilakukan untuk kegiatan ekstra kurikuler. Tanpa sadar, seiama ini kegiatan tersebut sudah mengarah untuk pengembangan kecakapan hidup. Namun biasanya belum disusun secara baik. Oleh karena itu, masih dapat disempurnakan dengan cara menggunakan matriks Gambar 6, dengan modifikasi seperlunya. Matriks dibuat untuk tema/topik kegiatan ekstra kurikuler, sedangkan kolom pertama diisi mata pelajaran dan pokok bahasan yang terkait. Gambar 7 adalah contoh, sebuah SMP menyempurnakan kegiatan ekstrakurikuler menjadi bentuk tugas proyek (project work). SMP tersebut mewujudkan kegiatan ekstrakulikuler kelas 2 menjadi tugas proyek untuk mengatur kantin sekolah, agar menyajikan makanan yang bersih, bergisi baik, dan harga terjangkau. Menurut guru-guru, terdapat beberapa mata pelajaran yang terlibat, yaitu Nmu Alam-Biologi, Matematika, llmu Sosial-Ekonomi, Kewarganegaraan dan Agama. Setiap mata pelajaran menunjuk pokok bahasan tertentu dan temyata terkait dengan aspek kecakapan hidup tertentu pula. Tanda cek (V) menunjukkan aspek-aspek kecakapan hidup yang terkait dengan mata pelajaran. Seperti halnya contoh terdahulu, berdasarkan tanda cek tersebut, disusun rancangan “Tugas Proyek: Menyusun Menu Kantin Sekolah”, dan setiap pokok bahasan dan aspek kecakapan hidup dijadikan KD, yang selanjutnya sengaja dikembangkan dalam kegiatan beiajar dan diukur ketercapaiannya sebagai hasil belajar. 2. Pengembangan Budaya Sekolah Pendidikan tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi juga di lingkungan sekolah, di iuar kelas, bahkan di keiuarga dan di masyarakat. Bahkan seringkali proses belajar untuk hal-hal yang bersifat nilai (value) dan motivasi, iebih banyak terjadi dalam interaksi di Iuar kelas. Oleh karena itu situasi di sekolah (iklim sekolah) harus diupayakan menjadi wahana penumbuhan nilai-nilai yang positif dan motivasi belajar siswa. Jika dikaitkan dengan aspek-aspek kecakapan hidup, maka pengembangan aspek kesadaran diri, akan lebih efektif jika didukung oleh contoh seharhhari yang dapat diamati dan dirasakan di sekolah. Jika kejujuran, disiplin, toleransi, kerja keras, dan saling tolong-menoiong terwujud dalam kehidupan sehari-hari di sekolah (telah menjadi iklim sekolah), dapat diharapkan siswa akan terdorong untuk melakukannya. Bukankah siswa lebih percaya pada tauladan dibanding yang diceramahkan? Pengembangan iklim sekolah sebagaimana disebutkan di atas perlu dibarengi dengan upaya kesadaran bahwa apa yang dilakukan dalam keseharian tersebut mengandung nilai-nilai luhur. Jika kemudian nilai-nilai tersebut menjadi rujukan perilaku keseharian akan tumbuh menjadi budaya sekolah dan budaya semacam itu akan sangat mendukung keberlanjutannya. 3. Manajemen Sekolah Reorientasi pembelajaran dan pengembangan budaya sekolah yang seiaras dengan PKH, pada akhirnya dikendalikan oleh manajemen sekolah. Oleh karena itu manajemen sekolah juga merupakan wahana sangat penting untuk mendukung reorientasi pembelajaran dan pengembangan budaya sekolah tersebut. PBL menyandarkan pada asumsi bahwa kondisi anak didik sangat heterogen, sehingga pelayanannya juga tidak dapat diseragamkan. Oleh karena itu prinsip manajemen sekolah dapat diarahkan untuk mendorong pengembangan kecakapan hidup sesuai dengan situasi dan kondisi sekolah. Di dalam konteks ini termasuk, memberi peluang kepada guru untuk mengelola pembelajaran yang mampu mengembangkan kecakapan hidup, sebagaimana dua contoh yang diajukan sebelum ini. Demikian pula untuk pengembangan budaya sekolah, harus disesuaikan budaya masyarakat yang kini sudah ada. Yang penting budaya itu disempurnakan, melalui pengembangan iklim sekolah yang dibarengi penumbuhan pemahaman akan nilai-nilai di balik iklim sekolah yang dilaksanakan. Prinsip ini sejalan dengan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang kini telah menjadi kebijakan nasional. C. Perlu Kerjasama Sinergis untuk Menagatasi Pengangguran Pada saat ini fakta menunjukkan bahwa cukup banyak tamatan SMP/ MTs yang tidak melanjutkan ke sekolah menengah dan tamatan SMA/MA yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi. Selain itu juga ada siswa putus sekolah (DO) dari SMP/MTs dan SMA/SMK/MA yang sebagian besar akan masuk ke pasar kerja. Dengan demikian diperlukan langkah strategi khusus untuk membekali mereka yang akan memasuki lapangan kerja. Untuk memasuksi lapangan kerja, lulusan SMP/MTs memerlukan bekai kecakapan generik dan kecakapan spesifik, khususnya kecakapan vokasional yang sesuai dengan kondisi ketenagakerjaan. Oleh karena itu perlu dicari altematif, agar siswa yang sedang belajar di SMP/MTs tetapi potensial untuk tidak melanjutkan dan siswa yang sedang belajar di SMA / MA tetapi potensi untuk tidak melanjutkan atau bahkan putus sekolah, dapat memperoleh bekal kecakapan vokasional. Demikian pula, mereka yang telah lulus SMP/MTs dan lulus SMA/MA tetapi tidak melanjutkan dan akan memasuki lapangan kerja. Untuk melengkapi SMP/MTs dan SMA/MA dengan peralatan dan guru yang mampu membina kecakapan voikasional tersebut akan sangat mahaf dan juga tidak efisien. Oleh karena itu perlu dilakukan kerjasama sinergis antara berbagai sekolah/lembaga pendidikan yang memiiiki tenaga guru dan fasilitas cukup baik untuk pembinaan kecakapan vokasionai. Lembaga pendidikan semacam SMK, SMA, MA, BLK (Balai latihan Kerja), Perguruan Tinggi dan bahkan Lembaga Kursus yang memiiiki potensi bagus dapat bekerja sama menyediakan layanan pendidikan kecakapan vokasional sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan potensi yang dimiliki. Layanan tersebut dapat berupa program-program pelatihan jangka pendek, misalnya tiga bulan, empat bulan atau enam bulan dan program jangka panjang misalnya satu tahun atau dua tahun. Perlu diingat bahwa meskipun fokusnya pada kecakapan vokasional, namun bersamaan dengan itu kecakapan generik harus tetap dikembangkan. Sebagai contoh bersamaan dengan pengembangan kecakapan vokasional otomotif, juga dikembangkan kecakapan personal maupun sosial. Pola pengelolaan program pada konsorsium tersebut menerapkan prinsip-prinsip multi entry-multi exit,permeable, dan prior learning, yang diamanatkan oleh Undang-Undang no 20/2003 (UUSPN). Program-program latihan jangka pendek disebut Pendidikan dan Pelatihan Kejuruan Terpadu (PPKT). Terpadu mengandung makna bahwa semua lembaga pendidikan dan pelatihan dan bahkan industri perlu kerjasama sinergis dalam satu sistem baik dari sisi program maupun sertifikasinya. Dengan cara itu dapat disapai program-program yang betul-betul sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan dilaksanakan secara efisien. Lembaga yang sama juga dapat menyediakan layanan berupa program community college yaitu program pendidikan vokasional satu tahun atau dua tahun diatas SLTA. Program iniaitannya dengan pelaksanaan pendidikan berorientasi kecakapan diharapkan dapat menjadi embrio pembentukan politeknik yang sangat diperiukan dalam penyiapan tenaga kerja. Dengan kata lain SMA/SMK/BLK/ Lemdiklat lainnya yang memiliki potensi baik secara bertahap dapat berevolusi menjadi politeknik. Sebagai gambaran awal, sejak tahun 2000 sejumiah SMK yang dipandang siap dan memiliki potensi bagus telah didorong agar selain menyelenggarakan diklat reguler, juga menyediakan program-program PPKT berupa ; (1) diklat kompetensi jangka pendek (short course), (2) pelayanan jasa dan produksi. Sejak tahun 2002 beberapa SMK dan bahkan SMU juga sudah ada yang mulai menyediakan layanan program community college, berupa program pelatihan satu tahun pasca SLTA, sesuai dengan sumberdaya yang dimiliki dan kebutuhan masyarakat setempat. Rintisan .tersebut perlu diteruskan dengan kerjasama antara lembaga-lembaga yang berada dalam satu kawasan tertentu, untuk membentuk suatu konsorsium penyelenggara pelatihan kejuruan. Misalnya di suatu kabupaten dibentuk konsorsium yang terdiri dari SMAN 2 dengan pelatihan komputer, SMK 1 dengan pelatihan perhotelan, madrasah Aliyah dengan pelatihan kesenian Kaligrafi, BLK dengan pelatihan otomotif, SMK 2 dengan pelatihan sekretaris, BPKB dengan pelatihan menjahit, dan Pengusaha Industri Jamur dengan pelatihan teknik budidaya jamur merang. Konsorsium (kerjasama) beberapa SMK, SMA, MA, BLK, lembaga kursus serta industri kecil dalam memberikan pelatihan jangka pendek (PPKT) maupun pelatihan pasca SLTA {community college) periu dilandasi oleh semangat bersinergi demi memberi layanan masyarakat dan menurunkan semangat “ingin punya sendiri” yang saat ini terialu besar. Walaupun ini sulit sudah harus dimulai, karena pola itu akan lebih efisien. Pemilihan leading sector periu dilakukan secara demokratis, saling percaya, disertai “aturan main” yang jelas demi kebaikan bersama. Konsorsium tersebut pada saatnya dapat berevolusi menjadi lembaga penyedia layanan pendidikan dan pelatihan vokasional, mulai dari bentuk-bentuk jangka pendek, pendidikan jangka panjang, baik berbasis masukan lulusan SMP/MTs maupun SMA/MA/SMK. Secara bertahap konsorsium seperti itu dapat berevolusi menjadi pusat penyedia pendidikan dan latihan vokasional yang komprehensif, sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Menurut UU. No 22/1999 dan PP. No. 25/2000, kabupaten/ kota secara operasional bertanggung jawab dalam menangani pendidikan dasar dan menengah. Oleh karena itu program-program tersebut seyogianya ditangani oieh kabupaten/kota, sementara peran pemerintah pusat lebih banyak sebagai inisiator dan pendamping atau maksimal sebagai pemicu {triger). Di setiap kabupaten/kota, pada umumnya telah ada SMK dan BPKB/ SKB di bawah Dinas Pendidikan dan BLK/KLK di bawah Dinas Tenaga Kerja. Juga terdapat SMP/MTs dan SMA/MA yang memiliki sarana laboratorium yang cukup memadai. Di samping itu mungkin juga terdapat pusat diklat, kursus keterampilan atau bahkan industri yang memiliki sarana cukup baik. Karena itu, demi tercapainya efisiensi dan sekaligus sinergi, sebaiknya berbagai fasilitas tersebut berhimpun membentuk commnunity college yang berfungsi sebagai unit layanan pendidikan kecakapan vokasional untuk berbagai sekolah/Kejar Paket pada PLS. Pola di atas sekaligus dimaksudkan untuk merintis model pendidikan berbasis masyarakat luas community-based education (CBE), yaitu pendidikan yang berbasis kepada kebutuhan masyarakat dan memanfaatkan sumberdaya yang ada di masyarakat. BAB IV PENUTUP Pada bagian penutup ini perlu dijeiaskan bagaimana hubungan antara Pendidikan Kecakapan Hidup (PKH) atau Life Skill Education, Pendidikan Berbasis Masyarakat (PBM)/Community Based Education (CBE), Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)/Competency Based Curriculum dan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)/School-Based Management (SBM), agar tidak membingungkan pembaca. Paradigma pendidikan ke depan didasarkan pada kebutuhan masyarakat (PBM/CBE), karena pendidikan adalah bentuk layanan masyarakat Masyarakat lebih memeriukan PKH, karena kecakapan itulah yang secara nyata diperiukan untuk menghadapi kehidupan. Oleh karena itu, kurikulum yang digunakan sebagai panduan dasar pendidikan juga harus didasarkan kepada kompetensi yang diperiukan oleh lulusan (KBK). Mengingat kebutuhan peserta didik dan kondisi sekolah sangat beragam, maka pengelolaan sekolah, termasuk di dalamnya pengelolaan pembelajaran, harus didasarkan pada basis sekolah (MBS), sehingga sekolah mampu menyelenggarakan proses pendidikan yang benar-benar sesuai dengan tututan masyarakat yang diiayani. Pendidikan yang berorientasi pada kecakapan hidup (life skill education) dengan pendekatan pendidikan berbasis luas (broad based educatlon-BBE) adalah suatu konsep yang terbuka, sehingga akan terus mengalami perubahan dan penyempurnaan sesuai dengan perkembangan zaman. Dengan demikian, pengembangan konsep ini bukanlah sesuatu yang sekali jadi, tetapi secara terus menerus perlu dilakukan penyempurnaan agar mampu memenuhi perkembangan zaman. Sebagai konsep untuk mewujudkan pendidikan yang berorientasi pada kecakapan hidup dengan pendekatan pendidikan berbasis luas di Indonesia, yang tertuang dalam Buku I ini, tentu masih banyak kekurangannya. Masukan para ahli dan praktisi akan sangat berharga bagi penyempurnaan buku ini di masa datang. Perlu disebutkan bahwa buku panduan ini disusun secara berseri. Buku I ini memuat konsep dan pola dasar pelaksanaannya, sedangkan rincian teknis pelaksanaan dimuat secara terpisah pada Buku II, serta panduan pelaksanaan diuraikan lebih rinci dalam buku III, dan panduan penyusunan proposal bagi semua pihak terkait diuraikan secara rinci pada Buku IV. DAFTAR PUSTAKA APEID. 1993. New Directions in Technical and Vocational Education. Bangkok: Unesco Pricllmu Alami Regional Office for Asia and the Pasific. Balitbang Depdiknas. 2002. Indikator Pendidikan di Indonesia. Jakarta: Balitbang Dikknas. Blanchard, Allan. 2001, Contextual Teaching and Learning, B.E.S.T. 2001, Bently, Tom. 2000. Learning Beyond the Classroom: Education for Changing World. London: Routledge Falmer. Clowen, Thomas & Joseph Jordan. 2001. Globalization of Professions: A U$ Perspective with the Cyberwohd in Mind. http://ericcass.uncg.edu. Delaware Department of Education. 2001. The Standar for Functional Life Skills Curriculum. Doc. No. 95-01/00/099-06 Depdiknas. 2001. Laporan pada Rakor Bidang Kesejahteraan Rakyat, Tanggai 12 September 2001. Blazely, Lloyd D. et. all. 1997. Science Study. Jakarta: The Japan Grant Foundation. Kerka, Sandra. 1993. Carrer Education fora Global Economy ERIC. No. ED. 355457. Senge, Peter, et. all. 2000. Schools That Learn: A Fifth Discipline Resource. London: Nicholas Breaiey Publishing. Suryadi, Ace. 2002. Memahami Life Skill. Jakarta: Media Indonesia. University of Washington, College of Education. 2001. Training for Indonesian Educational Team in Contextual Teaching and Learning, Seatle, Washington USA. REFEREN … KONSEP PENDIDIKAN KECAKAPAN HIDUP Pengantar, Menteri Pendidikan Nasional, A. Malik Fadjar DAFTAR ISI BAB I PENDHULUAN A. Latar Belakang B. Pengalaman Hidup C. Tantangan Masa Depan D. Rumusan Masalah dan Pemecahannya E. Landasan Filosofis, Historis dan Yuridis F. Tujuan G. Manfaat BAB II PENDIDIKAN KECAKAPAN HIDUP DAN PENDIDIKAN BERBASIS LUAS A. Konsep Dasar Kecakapan Hidup B. Hubungan Antara Kehidupan Nyata, Kecakapan Hidup dan Mata Pelajaran C. Pendidikan Berbasis Luas (Broad Based Education) D. Hubungan antara PKH, BBE, KBK dan MBS BAB III POLA PELAKSANAAN PENDIDIKAN KECAKAPAN HIDUP A. Pelaksanaan PKH Dikaitkan dengan Jenjang Pendidikan B. Bagaimana Melaksanan PKH di Sekolah 1. Reorientasi Pembelajaran 2. Pengembangan Budaya Sekolah 3. Manajemen Sekolah C. Perlu Kerjasama Sinergis untuk Mengatasi Pengangguran BAB IV PENUTUP Daftar Pustaka Tim Penyusun Naskah: Ace Suryadi Arief Rahman Bagiono Jokosumbogo Hari Sudrajat Muchlas Samani Rusli Luthan Siskandar DAFTAR PUSTAKA APEID. 1993. New Directions in Technical and Vocational Education. Bangkok: Unesco Pricllmu Alami Regional Office for Asia and the Pasific. Balitbang Depdiknas. 2002. Indikator Pendidikan di Indonesia. Jakarta: Balitbang Dikknas. Blanchard, Allan. 2001, Contextual Teaching and Learning, B.E.S.T. 2001, Bently, Tom. 2000. Learning Beyond the Classroom: Education for Changing World. London: Routledge Falmer. Clowen, Thomas & Joseph Jordan. 2001. Globalization of Professions: A U$ Perspective with the Cyberwohd in Mind. http://ericcass.uncg.edu. Delaware Department of Education. 2001. The Standar for Functional Life Skills Curriculum. Doc. No. 95-01/00/099-06 Depdiknas. 2001. Laporan pada Rakor Bidang Kesejahteraan Rakyat, Tanggai 12 September 2001. Blazely, Lloyd D. et. all. 1997. Science Study. Jakarta: The Japan Grant Foundation. Kerka, Sandra. 1993. Carrer Education fora Global Economy ERIC. No. ED. 355457. Senge, Peter, et. all. 2000. Schools That Learn: A Fifth Discipline Resource. London: Nicholas Breaiey Publishing. Suryadi, Ace. 2002. Memahami Life Skill. Jakarta: Media Indonesia. University of Washington, College of Education. 2001. Training for Indonesian Educational Team in Contextual Teaching and Learning, Seatle, Washington USA.

  1. Niky WN
    19 Februari 2010 pukul 08:52

    Assalamualaikum.
    buku ini sangat bagus, apakah buku ini diterbitkan? apa penerbitnya?
    karna saya butuh buku I,II, dan yang keIII untuk penyusunan skripsi saya.
    terimakasih sebelumnya.

  2. lyna
    14 April 2010 pukul 13:26

    info’y bagus… terimakasih..
    saya msh perlu info tentang kecakapan berpikir. mhn bantuan’y..

  3. ridar umar
    5 Februari 2011 pukul 09:30

    Assalamualaikum.
    Saya butuh buku ” Pendidikan Kecakapan Hidup (life skill) ” oleh Tim BBE Depdiknas 2002, Jakarta: Depdiknas
    karna saya butuh untuk penyusunan tesis saya.
    terimakasih sebelumnya.

  4. 11 Mei 2011 pukul 11:25

    Asalamkum infonya menarik2 juga, numpang mampir ya..ni ada tenlung pemutih kulit, pelangsing dan peninggi badan aman.harga murag.

  5. 29 Mei 2013 pukul 00:13

    Definitely imagine that that you stated. Your favourite reason
    appeared to be on the web the easiest thing to be mindful of.
    I say to you, I certainly get irked even as folks consider issues that they
    plainly do not know about. You controlled to hit the
    nail upon the top and defined out the entire thing without
    having side effect , folks could take a signal. Will likely be again
    to get more. Thank you

  6. 3 Juni 2013 pukul 14:40

    Thanks a bunch for sharing this with all people you really recognize what you
    are talking approximately! Bookmarked. Please additionally visit my web site =).

    We can have a link alternate agreement among us

  7. 3 Juni 2013 pukul 19:54

    I think this is one of the most significant info for me.
    And i’m glad reading your article. But should remark on some general things, The website style is great, the articles is really great : D. Good job, cheers

  8. 7 Juni 2013 pukul 12:56

    Awesome article.

  9. 8 Juni 2013 pukul 10:09

    Great post however , I was wanting to know if you could write
    a litte more on this topic? I’d be very grateful if you could elaborate a little bit further. Kudos!

  10. 8 Juni 2013 pukul 12:23

    It is truly a nice and useful piece of info.

    I’m happy that you simply shared this helpful info with us. Please stay us up to date like this. Thanks for sharing.

  11. 14 Juni 2013 pukul 21:45

    Hey there excellent blog! Does running a blog like this require a large
    amount of work? I have virtually no understanding of coding however I was hoping to start my own
    blog in the near future. Anyways, if you have any ideas or tips for new blog owners please share.
    I know this is off topic but I simply wanted to ask.

    Cheers!

  12. 1 Juli 2013 pukul 08:56

    Hello, i feel that i saw you visited my web site so i got here to go back
    the prefer?.I am trying to find issues to improve
    my site!I suppose its ok to use some of your concepts!

    !

  13. 1 Juli 2013 pukul 15:41

    Hey there! Do you use Twitter? I’d like to follow you if that would be okay. I’m undoubtedly enjoying your blog and look forward
    to new updates.

  14. 4 Agustus 2013 pukul 15:44

    At this moment I am going to do my breakfast, once having my breakfast coming again to read further news.

  15. norma
    25 November 2014 pukul 11:29

    isntrumen kecakapan hidup akademik itu seperti apa pak? kalo dilihat dari ranah afeksinya

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: