Beranda > Artikel > MALAM YANG SEPI

MALAM YANG SEPI


Rabu : 10 Juni 2009 — 22.30

Malam ini terasa sepi sekali, semua penghuni alam terlelap dalam mimpi yang tiada bertepi. Ku termenung di sofa yang warnanya sudah mulai memudar, ku pijit tombol polytron 21″ semua chanel menanyangkan acara yang sama sekali tidak menarik mood-ku. Ramenya kancah politik dengan aroma kampanye dari para Capres dan Cawapres seolah menu utama semua chanel televisi — ah… membosankan — yang pasti bagiku semuanya sama antara kelebihan dan kekurangannya. Real action kandidat terpilih lebih kuharap mampu memberikan keadilan dan kenyaman yang hakiki terlebih bagi profesiku (ego..he…he).

Kutekan tombol off di remote, suasana kembali sepi…sepi…sepi…hanya nyanyian binatang malam dan dengkuran istri dan anakku yang sedari tadi (ba’da Isya sudah bergumul dengan bantal guling) yang kini menemani kesendirianku. Kupalingkan tatapan tertuju pada meja kerja dimana “SI ACCER” bertengger solah menantangku untuk meminta segera memijat-mijat seluruh anatominya. Ku hampiri, ku tatap, ku pegang, ku elus-elus akhirnya kubuka sambil ku tekan tombol on SI ACER .

SI ACER menampakan sehelai dadanya yang putih bersih seolah siap untuk ku bantai dengan coretan-coretan semerawut yang memang menggambarkan ketidakmenentuan pikiranku. Lama ku termenung mengumpulkan isnspirasi apa gerangan yang seharusnya aku teteskan lewat jemari di dada SI ACER. Akhirnya memoriku mengajak aku berkelana ke masa lalu, di mana masa itu aku benar-benar merasakan betapa nikmatnya hidup meski secara normatif mungkin waktu itu aku sedang tidak berada dalam derajat dan martabat yang baik.

Masa itu adalah masa “Remaja” masa yang dikategorikan oleh para ahli adalah masa strum and drung, masa merindu puja, masa try and eror, masa ke-aku-an (ego centris) de el el … (seabreg kriteria   yang sangat banyak). Memang di masa remaja semuanya serba happy, enjoy dan serba luar biasa dalam kehidupan manusia — indah segalanya meski dalam suasana yang relatif dan background yang berbeda.  Sekarang ….kini….masa itu telah berlalu yang tidak mungkin bisa ku lewati kembali, yang ada di hadapanku sekarang adalah kemampuanku untuk menjadi figur pemimpin bagi istri dan anakku. Aku harus bisa dan mampu menjadi sosok yang dapat dijadikan personifikasi oleh keluargaku — bagaimanapun setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di alam akherat. Duh … kalau sudah begini kembali rasa sepiku di malam ini kian menjadi … sepi…sepi…dan…sepi…cag!

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: